Story of Her (2/2)

Gambar

Story of Her

 

Author : Kim Sooki

 

Leght : Two Shoots

 

Rating: PG – 15

 

Genre : Romance, comedy (?)

 

Main Cast :

Xi Luhan – Jung Yejin

 

Summary :

            Aku mengatakan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya di bulan Desember, dan kau berjanji setelah liburan musim dingin usai kau akan menjawab pertanyaanku. – Yejin

            Aku meninggalkanmu di bulan Desember, dan di bulan Desember pula aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku, ini benar-benar keajaiban. – Luhan

 

 

~ooOoo~

 

Yejin, gadis itu kini tengah berdiri di halaman rumahnya dengan secangkir teh hijau hangat di tangan kanannya. Yejin menarik nafas dalam mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya. Musim dingin tiba, di bulan Desember. Bulan yang menurutnya menyimpan banyak kenangan.

“Apakah ia mengingatku ?” ucap Yejin dengan menerawang.

“Jika kau tidak yakin, kenapa kalian tidak bertemu saja ? Kejar dia Yejin-ah !” ucap seseorang. Yejin membalikkan badan dan tersenyum masam pada ibunya, “Eomma, tentu saja tidak mungkin. Dia sangat sibuk, lagi pula dia akan comeback.”

“Kekasihmu seorang penyanyi ?!” tanya ibunya spontan. Yejin mengerucutkan bibirnya cepat, ibunya memang sangat susah untuk berbicara hal ini, entah mengapa, ia sendiri tidak tahu.

“Dia bukan kekasihku. Aku harus kuliah sekarang. Annyeong !” ucap Yejin, gadis itu segera memberikan teh yang sejak tadi ia genggam kepada ibunya. Dan berlalu pergi begitu saja.

“Ya, Jung Yejin !”

 

~ooOoo~

 

Yejin berlari memasuki setiap kamar mandi wanita di universitasnya, sejak tadi ia mencari Eunso di seluruh universitasnya, hanya saja gadis itu tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali dihadapannya. Ugh, sial sebentar lagi akan dimulai, keluhnya.

“Yejin-ah !” panggil seseorang. Yejin membalikkan badan segera menghampiri Eunso dengan berlari kecil. “Astaga, darimana saja ? Aku mencarimu ke seluruh sudut sekolah.”

Eunso tersenyum miring, “Aku baru saja datang. Ada apa ?”

“Antar aku menemui fansign hari ini. Aku ingin berbicara langsung dengan Luhan. Bisa ?” tanya Yejin harap-harap cemas. Eunso tampak berpikir sejenak lalu mengangguk cepat, “Kurasa aku bisa, apa yang ingin kau katakan kepadanya ?”

Yejin menunduk dalam lalu menatap Eunso, sejujurnya ia ingin bertemu Luhan karena ia teringat perkataan ibunya terhadapnya tadi pagi “Sesuatu yang pernah terlupakan.” Eunso menatap Yejin dengan aneh, “Kau mulai bisa dramatis, Yejin-ah?” Yejin terkekeh pelan menanggapi candaan Eunso yang menurutnya cukup lucu.

 

~ooOoo~

 

Luhan menguap pelan, rasa kantuk masih menyarangnya. Terang saja, ia baru tidur jam 1 malam, karena ibunya bercerita banyak tentang dirinya, dan cinta pertamanya. Ah, cinta pertamanya, sedang apa gadis itu sekarang ? Apa dia sudah makan ? Sejujurnya, ia sempat terkejut saat ibunya mengatakan nama gadis itu. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar tidak seperti biasanya, ia merasa memang gadis itulah yang ia cari selama ini walaupun ia kurang yakin akan hal itu, sampai ia harus bercerita pada ibunya.

“Luhan-ah, kau tidak melihat fansmu menunggumu, huh ?” tanya Xiumin yang berada tepat disamping kanannya. Pertanyaan Xiumin membuatnya sadar sejenak dari lamunannya. “Ah, aku lupa.”

Luhan kembali pada posisinya, laki-laki itu mulai menyalami dan memberikan tanda tangannya pada fans yang sempat menunggu tadi. Laki-laki itu terus tersenyum sampai akhirnya giliran seorang gadis yang menggunakan mantel sangat tebal, topi rajut bermotif tribal, dengan kacamata hitam. Ia tampak terlihat aneh, apalagi sarung tangannya yang bermotif polkadot.

“Eum..hai.” sapanya pelan, walaupun pelan Luhan tetap masih bisa mendengarnya. Luhan tersenyum ramah, “Hai, jadi namamu ?”

“Eum, ini bukan untukku. Melainkan untuk ibuku. Ia sangat mengagumimu Luhan-ssi. Nama ibuku Jung Ahra.” Luhan terdiam sejenak, logat gadis itu saat memanggilnya Luhan. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya.

“Jadi, kau tidak mengagumiku, ya ?” tanya Luhan jahil. Tiba-tiba rasa dendam kepada gadis itu akibat sosis bakar, sirna sudah. Mengapa ? Mudah saja jawabannya, gadis itu yang ia cari selama ini. Dan dia sangat lemah terhadap seseorang yang ia suka.

Gadis itu terdiam sejenak, “Bukan-bukan begitu. Kau memang tampan Luhan-ssi, hanya saja aku bukan fans mu.”

Luhan terkekeh pelan, “Aku hanya bertanya kau mengagumiku atau tidak, kenapa harus menjawab yang bertele-tele ?”

“Ah, ne. Mianhae.” Ucap gadis itu. Luhan semakin tersenyum lebar, “Untuk apa ? Maaf untuk sosis bakar, atau maaf karena kau telah mencuri hatiku, nona ?”

Gadis itu mematung di tempat, ia tidak berkutik sama sekali mendengar ucapan yang baru saja lontarkan. Luhan semakin tersenyum lebar. “Kenapa diam ?”

Gadis itu menggeleng pelan, “Aniyo. Eum kurasa aku sudah mendapatkan tanda tangan yang kuinginkan. Permisi.”

Luhan yang baru saja bertemu kembali dengan cinta pertamanya tidak akan segan-segan membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Luhan segera bangkit, gadis itu tengah berjalan dengan cepat namun mantel yang menyelimuti tubuhnya tampak berat sehingga ia tidak terlalu cepat.

Luhan berjalan mendekatinya, gadis itu seakan kelinci atau mangsa yang hendak ia terkam. Luhan semakin tersenyum jahil, gadis itu membalikkan badan saat ia tahu Luhan mengejarnya ia semakin berusaha keluar dari tempat itu.

Namun, Luhan yang mempunyai kaki lebih lebar darinya mendahuluinya. Kini Luhan berdiri tepat di depan gadis itu. Gadis itu berhenti berlari, ia menundukkan kepalanya seakan takut dengan Luhan.

Luhan mencium kening gadis itu pelan dan dalam, cukup lama. Semua mata menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda. Bahkan Eunso sebagai fans berat Luhan menatap mereka dengan matanya membulat sempurna.

Luhan mendekatkan bibirnya yang seksi itu tepat di telinga kiri gadis itu, “Terima kasih, kau telah mencuri hatiku, Jung Yejin. Aku akan menelponmu nanti.”

Gadis itu membeku, Luhan berbalik berjalan kembali ketempat semula. Semua member EXO menatapnya dengan tidak percaya. Eunso segera bergerak, gadis itu menarik Yejin keluar dari tempat fansign dengan berlari.

“Cepat, kurasa sebentar lagi kau tidak selamat dari fans Luhan.” Ujar Eunso, Yejin yang masih melamun hanya mengangguk tanpa menanggapi Eunso.

“Hei Yejin ! Kita harus pulang sekarang.” Eunso berlari semakin cepat. Kini mereka sudah diluar dari gedung tempat pelaksaanaan fansign. Eunso segera menyetop taxi dan pulang.

 

~ooOoo~

 

Kris berjalan kesana kemari dengan jari-jari tangannya yang ia kepalkan. Ia benar-benar tidak bisa menduga jika Luhan sesuatu yang fatal hari ini, akibat tingkahnya yang gila. EXO segera keluar dari tempat itu dan pulang menuju dorm kembali.

“Luhan, kenapa kau mencium gadis itu ?” tanya Yixing pelan. Kris menghentikkan sejenak kegiatannya dan menatap Luhan untuk mencari kepastian dari mulut laki-laki itu sendiri. “Aku menyukainya.”

“Kau apa—menyukainya ?! Bahkan kau tidak tahu siapa dia Luhan ! Bagaimana jika dia bicara pada media bahwa ia istrimu atau pacarmu ? Atau ia akan mengaku yang lebih parah ?” tanya Kris panjang kali lebar sama dengan luas. Luhan menatap Kris bingung, “Hyung, tenanglah. Aku mengenalnya gadis itu tidak mungkin seperti yang kau bayangkan.”

Kris menggebrak meja makan EXO-M dengan keras, membuat Tao, Jongdae, Xiumin yang sedang makan terkejut. “Kau mengenalnya ? Jangan berbohong.”

“Aku tidak berbohong, hyung.”

“Apakah gadis itu Jung Yejin ? Cinta pertamamu, hyung ?” tanya Jongdae kini tengah berdiri sebagai perantara Kris dan Luhan.

Luhan menatap Jongdae tidak percaya, “Kau mengenalnya ?”

Jongdae menggeleng kepalanya pelan, “Aniyo. Mianhaeyo hyung, kemarin malam kau sangat berisik sampai aku mendengar percakapanmu dengan ibumu.”

“Astaga Jongdae.”

“Jadi, bisakah kau menceritakannya pada kami ? Bukankah kita keluarga, Luhan-ah ?” Xiumin menepuk bahu Luhan pelan. Luhan menatap manik mata Xiumin menunjukkan bahwa disana memang EXO harus mengetahui hal itu termasuk manager mereka.

“Baiklah. Tapi, aku juga ingin ,meminta pendapat kalian tentang rencanaku bersama ibuku.”

 

~ooOoo~

 

“Yejin-ah, benarkah Luhan cinta pertamamu ?” tanya Eomma yang sedang menatap Yejin dengan bingung. Setelah sampai rumah Eunso segera menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Ibunya sangat terkejut, Eunso segera pamit karena ia tahu ibunya akan berbicara secara empat mata bersama Yejin.

Yejin termenung sebentar, gadis itu mengangguk pelan, “Ne eomma.”

“Bagaimana kau kenal Luhan ?”

Yejin menelan ludahnya dengan susah payah, ia ingat setiap inci ceritanya bersama Luhan ia bahkan tidak berniat melupakannya. Karena itu menurutnya terlalu indah walaupun itu sedikit memalukan, baginya.

 

Beijing, 12 December 2002

 

“Hei, Yejin. Sejak tadi kau terlihat melamun.” Ucap teman sebangkunya Ying. Yejin menggeleng pelan, “Aku tidak melamun, hanya memperhatikan seseorang.” Ying segera mengikuti arah pandang Yejin, gadis itu tertawa “Kau suka Luhan ya ? 6-A itu ? Kenapa kau tidak mengungkapkan perasaanmu ?”

Yejin menatap Ying dengan tatapan bingung, “Mengungkapkan perasaanku ? Bagaimana jika nanti kekasihnya marah padaku ?”

“Ia tidak mempunyai kekasih, tenang saja. Lebih baik kau segera ungkapkan perasaanmu sebelum ia mempunyai kekasih.”

Yejin mengangguk mengerti maksud Ying. ‘Aku harus segera mengungkapkan perasaanku.’ Tekadnya bulat.

 

Beijing, 21 December 2002

 

Kini Yejin berdiri tepat di depan ruang kelas 6-A gadis cilik itu tengah membawa coklat dan mawar putih ditangannya. Kemarin sepulang sekolah ia merengek pada ibunya agar dibelikan coklat kesukaannya, mawar putih ini ia mengambil dari rumah tetangganya yang baik, Paman Li Chin.

“Apa yang kau lakukan disini ?” tanya seorang anak laki-laki berwajah galak berbadan kurus, tinggi dengan tatapan sinis. Yejin tersenyum kikuk, “Aku ingin bertemu, Luhan.”

Laki-laki itu menggaguk dan segera memasuki kelas, “Luhan ada yang mencarimu.”

Tak selang lama laki-laki itu keluar kembali, “Luhan sedang mngerjakan tugas, dia sangat sibuk. Jadi, bagaimana ?”

“Bolehkah aku memasuki kelas ini ?” tanya Yejin polos. Laki-laki itu mengagguk setuju. Yejin mulai melangkah memasuki kelas Luhan, ia tidak peduli walaupun banyak sepasang mata menatapnya aneh. Ia hanya ingin bertemu Luhan, ya laki-laki itu, dimana ia sekarang ?

Luhan berada di dekat jendela kelas yang menghadap Timur, gadis itu segera menghampiri Luhan, Luhan menatapnya bingung seakan bertanya, ‘Siapa kau ?’

“Hai Luhan.” Sapa Yejin malu-malu.

Luhan tersenyum ramah, “Hai. Siapa namamu ?”

“Jung Yejin, kau bisa memanggilku Yejin.”

“Ada apa mencariku ?”

Yejin menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa gugup yang mulai menyelimuti dirinya dengap mngepalkan kedua tangannya, “Aku sejak lama menyimpan perasaan untukmu, jadi kau harus mau menjadi kekasihku. Jangan menolakku, ya?”

Yejin segera memberikan coklat yang sejak tadi ia bawa kepada Luhan, mawar putih yang ia pegang segera ia taruh diatas meja Luhan.

Luhan tersenyum manis, “Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah liburan musim dingin telah usai. Bagaimana ?”

“Baiklah.”

Yejin bangkit dari kursi Luhan, tapi gadis itu kembali duduk dan mendekatkan diri kearah Luhan. Gadis kecil itu mengecup pelan pipi kanan Luhan.

Yejin segera berlari meninggalkan kelas Luhan, Luhan merasakan bahwa pipinya mulai memanas akibat kelakuan adik kelasnya itu.

-FLASHBACK END-

 

“Lalu, apa jawaban Luhan untukmu ?” tanya ibunya setelah mendengar cerita putrinya itu. Yejin tersenyum samar, “Dia tidak menjawab pertanyaanku.”

“Kenapa menggantung begitu ?”

Yejin menggeleng pelan, “Bukan gantung eomma. Dia tidak lagi bersekolah di China. Lalu, eomma dan appa mengajakku untuk pindah ke Korea. Ceritaku berakhir begitu saja.”

Eomma menatap Yejin dengan iba, ia tidak menyangka percintaan anaknya berakhir begitu saja, tanpa ada ending yang jelas seperti drama serial di TV.

“Aku harus tidur. Kurasa ini sudah terlalu malam.” Ucap Yejin, gadis itu beranjak dari ruang tamu keluarganya dan berjalan memasuki kamar.

Tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar, Yejin segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas selempangnya.

Disana tertulis nomor yang tidak ia kenal, Yejin segera mengangkat telpon itu tanpa berpikir lama.

“Halo ?”

“Kau belum tidur, hm?”

Nuguya ?”

“Kau melupakanku, huh ?”

“Aku tidak mengenalmu. Akan kututup.”

“Aku Luhan.”

Hening..

Yejin membanting ponselnya diatas kasur, dirinya jatuh terduduk di lantai kamarnya yang cukup dingin. Gadis itu menundukkan kepalanya, jujur ia tidak percaya. Ternyata laki-laki itu benar-benar menelponnya.

Cinta pertamanya menelponnya ! Astaga ia benar-benar senang.

“Kau masih disana, Yejin-ah ?”

Yejin segera mengambil ponselnya dengan cepat, “Ah ne. Ada apa Luhan-ssi ?”

“Jangan memanggilku dengan embel-embel ‘ssi’ aku tidak menyukainya, panggil saja Luhan-ah atau Luhan sunbaenim. Bukankah aku kakak kelasmu ?”

Yejin tertawa pelan, “Mianhaeyo, Luhan sunbae. Kupikir kau lebih suka dipanggil seperti itu.”

“Kau sudah makan ?”

“Sudah.”

“Kau tidak tidur ?”

Aniyo.”

“Kau tidak mengantuk ?”

Tentu saja tidak, bodoh, ini karena kau menelponku, guman Yejin.

“Tidak.”

“Kau tidak lapar ?”

“Tidak.”

“Kau tidak ingin bertanya padaku ?”

“Eum..darimana kau mendapat nomer ponselku ?”

“Universitasmu, teman kuliahmu.”

“Kenapa kau menelponku ?”

“Karena aku sudah berjanji akan menelponmu.”

“Kenapa kau mencium keningku di depan umum? Kau berniat membunuhku ya ?”

“….”

“Hey.”

“Tidak, aku berniat melindungimu. Aku menciummu karena aku terlalu senang bertemu lagi denganmu.”

“Benarkah ?”

“Ya.”

“Luhan sunbae, sebenarnya aku mau memprotes satu hal.”

“Apa?”

“Kau mencium keningku, padahal aku menjaganya baik-baik agar yang mendepatkan keningku adalah masa depanku.”

“Memangnya keningmu kau jual ?”

“Tidak.”

“Baiklah. Sampai besok, aku akan datang kerumahmu. Bersiap-siaplah. Besok adalah kejutan. Dada Jung Yejin, selamat malam~”

“Hey !”

Beep-beep

Sambungan terputus begitu saja. Yejin memegang jantungnya yang berdebar-debar sangat kencang mungkin 2 kali lipat. Ini benar-benar keajaiban di bulan Desember.

 

~ooOoo~

 

Yejin membuka kelopak matanya perlahan, hari ini adalah hari minggu. Hari yang sangat ia sukai, kenapa ? Ibunya tidak akan membangunkannya walaupun dia bangun sampai jam 2 siang. Itu memang hal yang gila menurutnya.

Yejin mengambil ponselnya, untuk sekedar mengecek sekarang jam berapa. Gadis itu mengangkat alisnya sebelah, 7.20 KST. Kenapa masih sangat pagi ? Biasanya ia akan bangun paling pagi jam 10.40 KST.

Tunggu tapi ada yang aneh diponselnya, ada tanda pesan. Yejin segera membuka screen lock ponselnya. Disana terdapat 11 pesan dari nomer yang tidak dikenalnya, eh bukan, melainkan nomer ponsel laki-laki yang menelponya kemarin malam. Luhan.

Untuk apa ia mengirimiku pesan ? batinnya.

From     : Luhan

Selamat pagi ^^

 

From     : Luhan

Sudah bangun ?

 

From     : Luhan

Kau belum bangun ya ? -_-

 

From     : Luhan

Kenapa tidak menjawab ?

 

From     : Luhan

Apa kau kehabisan pulsa ?

 

From     : Luhan

Atau kau masih tidur ? Atau tidak memegang ponselmu ?

 

From     : Luhan

Yejin, jawablah. Atau aku akan kerumahmu !

 

From     : Luhan

Jika kutunggu sampai 10 menit tidak menjawab, aku benar-benar akan kerumahmu. Bersiaplah !

 

From     : Luhan

Baiklah, aku kesana.

 

From     : Luhan

Hei bukakan pintunya !

 

From     : Luhan

Aku sekarang ada di ruang tamumu. Foto-fotomu masa kecil sangat lucu, sepertiku.

 

Yejin membulatkan matanya tidak percaya, Luhan kerumahnya ? Apa yang laki-laki itu lakukan dirumahnya ? Astaga, Yejin segera bangkit dari ranjangnya ia membawa ponselnya, gadis itu segera membuka kenop pintu kamarnya dan berlari ke ruang tamu, mencoba mencari kebenaran yang ada.

Yejin mematung saat gadis itu telah menginjakkan kakinya diruang tamu, kau tahu apa yang dilihat gadis itu ? Member EXO, manager EXO, dan ibunya. Mereka menatap Yejin terkejut terutama ibunya, bagaimana tidak ? Ia masih menggunakan baju tidurnya dengan rambut yang acak-acakan kesana kemari.

“Astaga Yejin! Mereka tamu, kenapa kau berpakaian tidak sopan seperti itu ?” omel ibunya. Yejin menatap member EXO mencoba mencari laki-laki ‘itu’ . Luhan duduk diantara Suho dan Kris, laki-laki itu melambaikan tangannya pada Yejin. Oh, tidak laki-laki itu benar-benar membuatnya gila. Cinta pertamanya membuatnya gila.

Ibunya kini mendorong Yejin menuju kamar mandi, “Mandilah. Kita harus membicarakan sesuatu. Ppali !” Yejin hanya mengangguk mengikuti perintah ibunya.

Kini Yejin tidak lagi berpakaian tidur, melainkan menggunakan sweater hangat bermotif rusa, topi rajut tribal, dengan sarung tangan berwarna soft pink. Ibunya memberi tanda agar gadis itu duduk tepat disamping ibunya.

“Yejin, mereka datang kemari ingin meminta maaf atas insiden sosis bakar. Mereka juga datang kemari untuk mengembalikan dompet yang kau lempar.” Ucap ibunya. Yejin menggigit bibirnya, ia malu sekali bagaimana tidak sebenarnya ini semua kesalahannya bukan kesalahan mereka.

Gwechana. Saya juga minta maaf sekali tentang kelakuan saya.” Tutur Yejin tulus. Seorang pria paruh baya yang mungkin sebagai Manager EXO itu bangkit.

“Yejin-ssi, tapi kami memberi syarat untuk kami memaafkan anda.”

Yejin menganga tidak percaya, ada persyaratan ?

Nde?”

“Kau harus menemani Luhan berkencan hari ini. Bagaimana ?” tanya Manager EXO itu. Yejin menatap ibunya seakan memberi isyarat untuk membantunya, tapi ibunya seakan tidak mengerti kode Yejin.

Luhan segera bangkit dan menghampiri Yejin, “Kau terlalu lama, Manager Kim. Kajja, Yejin-ah” Luhan menarik lengan Yejin dan membawa gadis itu keluar.

“Kita akan bersepeda. Tidak apa-apa, bukan ?” tanya Luhan setelah mereka sampai di halaman rumah. Yejin mengangguk setuju.

Luhan segera menaiki sepeda bagian depan, sedangkan Yejin berada di belakangnya. Luhan tersenyum lebar, walaupun Yejin tidak melihatnya.

 

Kita akan berkencan, Yejin-ah, guman Luhan dalam hati.

 

~ooOoo~

 

Tempat perhentian mereka pertama adalah di taman yang berjarak sekitar 3 km dari rumahnya, yah lumayan lah bagi yejin yang tidak pernah bersepeda. Luhan yang melihat Yejin lelah terkekeh geli, “Kau tidak pernah olahraga.”

“Ya.”

“Kau tidak ingin minum?” Luhan mulai mendudukkan badannya diatas kursi kayu taman yang tak jauh dari tempat mereka memakirkan sepeda mereka. Yejin menggeleng lemah, “Aniyo.”

Luhan menatapnya bingung, gadis itu sangat terlihat membutuhkan minum, hanya saja kenapa ia menolak tawaran Luhan ?

“Kenapa tidak ingin minum ?”

“Aku takut kau meracuniku.” Jawab Yejin simpel.

Luhan menggerutu keras, “Kenapa kau sangat acuh padaku ?”

Yejin menatap Luhan, “Aku heran padamu, Luhan-ssi. Kau pertama kali bertemu denganku sangat marah, lalu sekarang kau begitu baik padaku.”

Luhan membalas tatapan Yejin membuat gadis itu sedikit merasa salah tingkah, “Memangnya tidak boleh, ya ?”

“Aneh saja. Bahkan sekarang kau mengajakku berkencan.” Bantah Yejin. Jika Luhan bisa ia ingin mencubit pipi gadis itu, jujur ia gemas. Gadis ini benar-benar sangat wasapada terhadapnya, seakan ia adalah virus yang membuatnya tertular.

“Aish, aku tidak bisa menjawab untuk itu. Bagaimana jika kita jalan-jalan lagi saja ?” tanya Luhan mencoba mengalihkan perhatian gadis itu. Gadis itu berdiri lalu berjalan menuju sepeda mereka tanpa menghiraukan Luhan.

Luhan hanya mengangkat kedua bahunya pelan, wanita memang sangat misterius. Sangat susah ditebak.

 

~ooOoo~

 

Kini disinilah tempat pemberhentian mereka, tempat dimana membuat kita berkeluh kesah, membuat kita menikmati semilir angin, atau ingin menenangkan diri. Sungai Han, tempat yang selalu memberikan sensasi tersendiri bagi Yejin. Tempat itu seakan memiliki sebuah box yang menampung curahan hati seseorang, termasuk curahan hati Yejin tentang Luhan.

“Jadi, apa menurutmu tentang Sungai Han ?” tanya Yejin memulai percakapan diantara mereka yang sempat saling berdiam diri. Luhan menatap gadis itu sebentar lalu mengalihkan tatapannya menuju Sungai Han yang terlihat sangat tenang dan damai. “Menyenangkan.”

“Menyenangkan ? Apa yang kau maksud menyenangkan ?” tanya Yejin tidak mengerti. Luhan menggeleng cepat. Yejin mengerucutkan bibirnya pelan, bentuk kemarahanny secara tidak langsung karena Luhan tidak memberitahunya.

“Kau marah ?”

Yejin tetap diam tak bergeming, ‘Tentu saja, aku sangat penasaran ini !’ umpatnya dalam hati. Luhan mencubit pelan pipi Yejin yang lumayan tembam, aksi Luhan menghasilkan reaksi dari gadis itu dengan cepat.

“Aduh.” Keluh Yejin. Luhan terkekeh pelan menanggapi gadis itu.

“Baiklah, aku menganggapnya menyenangkan karena seseorang yang sangat penting berada disampingku saat ini.”

Pipi Yejin sontak memerah dengan cepat, ucapan yang baru saja dilontarkan Luhan sempat membuatnya terbang. Oh tidak, jantungnya mulai berdebar-debar 2 kali lebih cepat sekarang, ia berharap Luhan tidak mendengarnya sekarang. Kumohon.

“Kau gugup ya ?”

Bingo!

Kau sangat pintar menebak Luhan-ssi !

“Eh tidak.” Bantah Yejin dengan berusaha bersikap biasa saja. Luhan menatapnya penuh selidik, “Kau mengepalkan tanganmu, berarti kau gugup. Dulu kau juga seperti itu. 12 tahun yang lalu. Bukankah begitu ?”

“Kau mengingatku ?” Yejin seakan tidak percaya dengan apa yang Luhan katakan, kalian tahu bagaimana perasaannya sekarang ? Bagaimana perasaan kalian jika kalian berada di posisi Yejin sekarang ? Senang, ah bukan bahagia. Ia terlalu bahagia.

“Yejin ?” panggil Luhan pelan mencoba menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Yejin menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. “Jadi, apa jawabanmu tentang persaanku 12 tahun lalu ? Aku masih menunggumu, Luhan sunbae.”

“Kau sungai Han karena itu seperti namaku bukan ? Lu-han.” Eja Luhan mencoba mengalihkan pembicaraan.

Sunbaenim.”

“Kau pernah berkeluh kesah disini ? Bagaimana rasanya ?” tanya Luhan. Yejin menatap Luhan kecewa, ia benar tidak menyangka jika respon Luhan seperti.

 

~ooOoo~

 

Yejin menghembuskan nafas dengan kasar, ia sempat malu akibat ulah Luhan tadi. Ia juga mengutuk mulutnya yang tidak bisa menahan perasaan bahagianya. Luhan tidak menjawab pertanyaannya sama sekali, laki-laki itu seolah tidak mendengar ungkapan gadis itu yang baru saja dilontarkannya dengan keras. Siapa yang tidak merasa kesal ?

Rasanya ia sedang merasa dalam mood terburuk hari ini. Diawal salju turun di Seoul, di bawah dinginnya udara yang menusuk kulitnya seperti jarum. Ia seakan dicampakkan Luhan. Walaupun laki-laki itu belum menjawab pertanyaannya.

Yejin memasuki kamarnya dengan langkah gontai tanpa mempedulikan panggilan ibunya yang menyuruhnya untuk segera makan malam. Gadis itu segera menghempaskan badannya di atas kasurnya yang empuk. Menangkupkan wajahnya didalam bantal dan mencoba menenangkan dirinya.

“Yejin ?” ibu membuka kenop pintu kamar putrinya itu pelan berusaha untuk tidak menimbulkan suara decitan yang mungkin mengganggu gadis itu. Yejin tetap terdiam. Ibunya berjalan mendekatinya, beliau duduk di tepi ranjang Yejin dengan pelan.

“Yejin ?” ibunya memanggil lagi dengan tangan mengusap rambut putrinya pelan. Yeji mengadahkan wajahnya menatap ibunya dengan datar.

“Ada apa bu ?”

Ibu memberi isyarat agar gadis itu merubah posisinya yang terlentang menajdi duduk tegap. Yejin hanya mengagguk menuruti ibunya. “Kau ada masalah hari—“

Belum selesai ibunya bertanya, Yejin segera memeluknya erat. “Bu, aku baru saja menanyakan hal yang sama kepada Luhan sunbae sama seperti 12 tahun yang lalu. Tapi, walaupun dia tidak menjawabnya kurasa sunbae akan mencampakkanku. Ibu tahu sendiri Luhan sunbae adalah orang yang terkenal mana mungkin ia tidak mempunyai kekasih.”

“Hm ? Mungkin juga memang dia mempunyai kekasih, kurasa kau lebih baik melupakannya. Bagaimana ?”

“Bagaimana bisa ? Aku menunggunya sampai sekarang. Dan ibu menyuruhku melupakannya ? Itu sangat susah bu.”

Ibunya terkekeh pelan, “Kau bisa. Lagi pula seseorang telah memintamu menjadi tunangannya.”

“Apa ?!” Yejin membulatkan matanya tidak percaya. Ibunya hanya mengangguk menanggapinya, “Kurasa kau akan menyukainya, dia sangat tampan. Jadi, bersiaplah untuk besok pagi. Kau akan bertemu dengannya.” Ibunya bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Yejin yang masih mempunyai tanda tanya besar di kepalanya.

Yejin segera mengambil ponselnya, dan mengetik cepat.

 

From    : Yejin

Sunbae, seseorang akan bertunangan denganku. Bagaimana menurutmu ?

 

 

From    : Luhan

Terima saja, bukankah itu demi kebaikanmu ?

 

 

From    : Yejin

Tapi…

 

 

From    : Luhan

Kau masih memikirkan hal itu saat kita di Sungai Han ?

 

 

From    : Yejin

Tentu saja, kau tidak memberikan jawaban apapun. Seakan menggantungku.

 

 

From    : Luhan

Kalau begitu lupakan hal tadi, anggap saja kita seperti seorang teman. Bukankah kau bisa mencari namja yang lebih baik dariku ?

 

 

From    : Yejin

Aku menunggumu sunbae, dan sekarang kau menginginkanku melupakanmu begitu saja, semua kenangan dulu ?

 

 

From    : Luhan

 

 

From    : Yejin

Kau pikir melupakan seseorang sangat mudah ? Kau pikir bertahan demi seseorang itu sangat gampang ? Apa kau tidak memiliki perasaan sama sekali ?!

Yejin membanting ponselnya kasar, perasaannya semakin hancur, moodnya memburuk. Baiklah secara tidak langsung Luhan menolaknya, dimana harga dirimu Yejin ? Gadis itu membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja, Yejin segera menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Membiarkan bulir-bulir bening yang berada di pelupuk matanya jatuh begitu saja.

 

~ooOoo~

 

Jung Yejin, gadis itu keluar kamar dengan mata yang memerah, bengkak, hidung yang tersumbat, bibirnya semakin memerah. Menandakan bahwa ia menangis semalaman penuh. Ibunya yang melihat perubahan Yejin hanya menggeleng pelan.

“Kau tidak ingin makan ?” tanya ibunya masih menggoreng telur mata sapi di wajan-nya tanpa menatap Yejin sekalipun. Yejin menggeleng lemah, ia hanya ingin keluar mencari udara segar, kamarnya seakan pengap sekali. Gadis itu berjalan pelan menuju halaman depan rumahnya. Gadis itu duduk disalah satu bangku dekat pohon, membiarkan dirinya menikmati udara di musim salju, serata menikmati dinginnya musim salju menusuk kulitnya karena ia tidak menggunakan mantel apapun.

“Kau gila ? Sedingin ini tidak menggunakan mantel apapun ?” tanya seseorang. Gadis itu tidak peduli, mungkin suara yang ia dengarkan itu adalah suara tetangga sebelahnya.

“Kau mendengarku tidak ?”

Yejin tetap membiarkan matanya tertutup, ia masih berpikir mungkin itu hanya tetangga yang sibuk dengan istrinya.

“Jung Yejin. Kau mendengarku tidak, sih ?”

Suara itu, logat yang ia pakai, nada bicara yang sering ia gunakan saat pertama kali bertemu, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa laki-laki itu berada disampingnya, bunyi derap langkah yang mendekatinya membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Tidak ia tidak mungkin kesini.

“Dasar gila.” Umpat laki-laki itu dengan memeluk Yejin erat. Gadis itu membuka matanya perlahan membiarkan matanya menyesusaikan cahanya yang memasuki matanya. Yejin menatap sekelilingnya termasuk seseorang yang tengah memeluknya sekarang.

“Luhan sunbae ?”

Luhan menatapnya kesal, “Iya ini aku bodoh. Apa yang kau lakukan disini ?”

Yejin mengaga tidak percaya, “Aku hanya mencari udara segar.”

“Kau ingin bunuh diri karena kemarin, huh ? Ayo kita masuk kedalam saja.” Luhan melepaskan mantel terluarnya, memakaikan pada Yejin, Luhan segera menggenggam tangan mungil Yejin dan menariknya memasuki rumah.

“Apa yang sunbae lakukan disini ?” tanya Yejin setelah ia dan Luhan memasuki rumah .

Luhan menatap Yejin kemudian kembali sibuk lagi dengan mantelnya, “Aku kemari karena kau tidak menjawab pesanku.” Yejin menatapnya dengan aneh “Memangnya kau mengirim apa ?”

“Cari saja sendiri.” Titah Luhan acuh tak acuh.

Yejin menatap Luhan gemas, kenapa laki-laki ini begitu menyebalkan sih ? “Jika aku sudah membacanya kau akan pergi ?”

“Kau mengusirku ya ?” tuduh Luhan cepat.

Yejin mengangguk cepat tanpa berpikir panjang dahulu, “Tentu saja.”

“Padahal aku mempunyai tujuan lain kemari.” Luhan mengalihkan pandangannya, kini mata sayu laki-laki itu menatap bola mata Yejin dalam.

“Oh ya ? Benarkah ?”

Tiba-tiba ponsel Luhan berbunyi membuat percakapan mereka tertunda sebentar. “Chakkaman. Manager Kim ? Ah ye kau sudah mengatakannya ?”

“Jadi ?” tanya Yejin kembali saat memastika Luhan sudah memasukkan ponselnya kedalam saku mantelnya yang tebal itu.

“Aku ingin memberikan undangan ini padamu.” Luhan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat, hanya saja ini bukan amplo resmi yang berisi surat undangan, melainkan amplop yang penuh dengan hiasan yang terkesan. Mewah.

“Kau akan menikah ?” tanya Yejin spontan.

Luhan menggeleng pelan menanggapi Yejin, “Tidak, lebih tepatnya bertunangan.”

“Bertunangan ?” Yejin membulatkan matanya cepat, kata-kata bertuangan seolah-seolah sesuatu yang mengerikan untuk didengarnya. Gadis itu menatap amplop yang masih berada digenggamannya itu dengan ragu, apakah Luhan menolaknya karena telah bertunangan juga, layaknya dirinya ? Yejin mulai merasakan jarum-jarum yang mulai menusuk hatinya perlahan membuat gadis itu harus menahan air matanya yang berada di pelupuk mata.

“Ya,”

“Dengan siapa ?” Yejin bertanya dengan nanda gemetar, ada rasa takut diddalamnya.

“Kau akan tahu sendiri nanti.” Jawab Luhan singkat.

Yejin tidak tahan, ia tidak tahan menahan tangisannya terlalu lama. Ia tidak bisa, gadis itu membiarkan butiran bening yang sejak tadi ia tahan jatuh begitu saja. “Lu-luhan sunbae. Kenapa kau membuatku menangis ? Padahal sebentar lagi calon tunanganku akan datang.”

“Dia sudah datang.” Luhan mengucapkan tanpa memandang Yejin yang telah menangis ria (ok ini aneh sekali -_-)

“Dia belum datang sunbaenim.” Sergah Yejin dengan suara parau.

“Sudah Jung yejin.”

“Tidak. Dia belum datang.”

Luhan melirik gadis itu pelan, oke gadis itu sekarang tengah menangis, entahlah ia tidak tahu kenapa gadis itu menangis, apa ia salah mengucapkan kata-kata ? Setahunya ia belajar pada Suho juga seperti itu, bahasa yang ia gunakan juga sama seperti yang ia pelajari kemarin malam. Luhan menatap gemas Yejin “Kenapa kau tidak peka sih ? Aku lah calon tunanganmu itu !”

“Kau bohong.” Sergah Yejin.

“Aish jinjja. Coba lihat undangan itu.” Luhan segera menunjuk surat undangan yang dibawa Yejin.

“Xi Luhan dan Jung Ye—jin ?” ucap Yejin saat membaca nama yang tertera di undangan tersebut deng tidak yah, tidak percaya.

“Kau bercanda ?

“Tidak.”

“Kau menyebalkan sunbae.” Omel Yejin pada Luhan. Luhan terkekeh pelan menanggapi Yejin “Tidak, aku sangat imut sekali.”

 

~ooOoo~

 

 

Seoul, 22 December 2014

Luhan dan Yejin, kini mereka berdiri tepat di balkon sebuah gedung tua yang tengah ramai dengan tamu-tamu yang diundang. “Jadi, sebenarnya apa isi pesan yang kau kirim padaku ? Ponselku rusak karena aku membantingnya terlalu keras.” Ucap Yejin disela-sela canda tawa mereka.

“Aku tidak akan memberitahumu.” Elak Luhan.

Yejin mengerucutkan bibirnya, “Aaa~ Sunbae.”

“Baiklah-baiklah.” Luhan mengalah dengan kelakuan gadis ini.

“Jadi ?”

“Aku membalasnya, kau harus lupakan semua yang dulu. Ah sebenarnya sih tidak perlu kau lupakan, karena aku mulai sekarang akan menambah kenangan manismu bersamaku.” Terang Luhan panjang kali lebar sama dengan luas gedung kota Seoul (?).

“Kau sangat romantis.” Puji Yejin tulus. Luhan mengangkat kedua bahunya pelan dengan tersenyum, “Terima Kasih nona Jung.”

“Aku mengatakan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya di bulan Desember, dan kau berjanji setelah liburan musim dingin usai kau akan menjawab pertanyaanku.” Ucap Yejin menatap Luhan dengan tersenyum manis. Luhan mengangguk, “Aku meninggalkanmu di bulan Desember, dan di bulan Desember pula aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku, ini benar-benar keajaiban.”

“Aku masih mempunyai satu pertanyaan.” Ucap Yejin.

“Apa ?”

Yejin menarik nafas dalam dan mengeluarkannnya secara perlahan, “Bukankah kau marah padaku karena sosis bakar itu ?” Luhan menggangguk kemudian menggeleng dengan cepat, “Tidak lagi, karena kau cinta pertamaku. Ah bukan, mungkin bukan cinta pertama saja alasannya, mungkin karena kau adalah calon istriku ? Atau tunanganku? Atau aku menyukaimu?”

“Mana yang benar ?” desak Yejin.

“Sudahlah. Ayo kita masuk, bukankah ini pesta pertunangan kita ?”

“Tapi aku sangat penasaran.”

“Intinya sama. Aku mencintaimu, Jung Yejin.” Ucap Luhan dengan menggandeng tangan mungil Yejin menuntunnya memasuki ruang utama gedung itu. Yejin tersenyum dalam, ‘Aku juga mencintaimu, Xi Luhan.’ Batinnya.

 

 

~ooOoo~

 

 

 

Oke ini ending apa-apaan -_ gak jelas sekali. Ending maksa ini, maafin saya ya /digebukmassa/ tiba-tiba entah kenapa kepikiran ngebuat ending ff seperti ini -_- sekali lagi saya sangat minta maaf jika tidak memuaskan. Tapi alangkah baiknya jika kalian meninggalkan komentar, kritik, atau saran di kolom komentar bawah ini.😀 Annyeong~

 Kalau ada waktu mampir di : hanyajo23wordpress.com🙂

 

One response to “Story of Her (2/2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s