Story of Her (1/2)

Gambar

Story of Her

 

Author : Kim Sooki

Leght : Two Shoots

Rating : PG –  15

Genre : Romance, comedy (?)

Main Cast :

Xi Luhan – Jung Yejin

Poster by ryuinseung (Terima Kasih sekali yaa)

Summary :

Aku mengatakan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya di bulan Desember, dan kau berjanji setelah liburan musim dingin usai kau akan menjawab pertanyaanku. – Yejin

            Aku meninggalkanmu di bulan Desember, dan di bulan Desember pula aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku, ini benar-benar keajaiban. – Luhan

~ooOoo~

 

Seorang gadis tampak tertidur lelap, walaupun matahari mulai menelusup tirai kamarnya ia tak menghiraukannya. Ia masih memanjakan kelopak matanya untuk terus tertutup rapat, seakan tidak ingin bertemu sang mentari hari ini.

“Yejin-ah !” panggil seseorang. Gadis yang memiliki nama lengkap Jung Yejin itu menutup telinganya rapat-rapat dengan bantal yang berada disampingnya tanpa menghiraukan panggilan Eommanya. Ketukan pintu mulai saling sahut-menyahut membuat gadis itu sedikit terusik dari mimpi indahnya.

“Yejin-ah ! Bangun, bukankah hari ini kau berjanji untuk membantu Eomma, huh ?” teriak Eommanya dari luar. Yejin meruntuk kesal, suara Eommanya benar-benar sangat memekakan telinganya membuatnya benar-benar terbangun dari tidur lelapnya. Yejin membuka kelopak matanya yang terasa berat dengan susah payah, membiarkan matanya menyesuaikan cahaya matahari yang memasuki kamarnya.

Ugh..” erangnya. Setelah merasa nyawanya terkumpul penuh, gadis itu mulai menapakkan kakinya di lantai rumahnya yang terasa dingin. Yejin bangkit dan berjalan pelan menuju pintu kamarnya.

Yejin membuka pelan pintu kamarnya, sehingga melihatkan wajah Eommanya yang terlihat kesal karena ia tidak segera bangun dari tidurnya. “Eomma ! Tidak perlu berteriak untuk membangunkanku.” Gerutunya.

“Bagaimana bisa aku tidak perlu berteriak untuk membangunkanmu, kau tidur seperti orang mati, Yejin-ah !”

Yejin mengerucutkan bibirnya, “Eomma~”

Eommanya menggeleng pelan, “Pantas saja kau tidak mempunyai seorang namjachingu. Kau sangat malas sekali.” Yejin membulatkan matanya kesal, “Mwo? Apa yang Eomma katakan ?”

“Cepat mandi, lalu kau harus membantu Eomma.” Eomma mendorong Yejin cepat menuju kamar mandi untuk segera mandi.

Arra, arra.”

~ooOoo~

 

Yejin kini tepat berdiri dihadapan Eommanya yang sejak tadi menunggunya. “Jadi, Eomma ingin meminta tolong padaku apa ?” Eomma menatap anak gadisnya itu dari atas hingga bawah, “Yejin, kau tau Eomma sangat mengagumi Luhan EXO, ‘kan ?”

Yejin mengganguk sebagai jawabannya, “Lalu ?”

Eommanya bangkit menghampirinya, memegang pundak Yejin erat, “Mintalah tanda tangan Luhan untuk Eomma , ya ? Eomma akan membelikan ice cream vanilla untukmu, bagaimana ?”

Andwaeyo ! Eomma ingin aku mati ditengah kerumunan sasaeng fans-nya, huh ?”

Eomma mendekati Yejin, “Astaga Yejin, eomma akan membuatkan makanan kesukaanmu. Luhan berada di Namsan Tower sekarang. Ppali !” usir Eomma. Yejin membulatkan matanya, gadis itu menggerutu kesal. Eomma segera memasukkan papan dan spidol permanent kedalam tas Yejin.

Astaga sebenarnya ia ingin tertawa putri satu-satunya itu bahkan tidak memiliki idola untuk dikagumi. Sedangkan ibunya ? Dia kalah dengan ibunya.

Yejin berjalan mendekati halte bus yang dekat dengan rumahnya, ia duduk dengan bersandar sembari menunggu bus yang akan mengantarnya menuju Namsan Tower.

“Semoga berhasil.” Hiburnya.

~ooOoo~

Yejin kini berdiri tepat didepan pintu gerbang Namsan Tower, gadis menarik nafas perlahan membuang pelan-pelan rasa kesal yang masih menghampirinya. Yejin mulai melangkahkan kaki jenjangnya memasuki Namsan Tower yang menurutnya cukup luas.

Kriiuukk.

Perutnya berbunyi dengan kencang, membuat pengunjung lain melihatnya dengan tatapan aneh. Yejin segera memegang perutnya yang sempat berbunyi itu. Astaga, ia lupa satu hal. Ia bahkan belum sempat makan pagi hari ini, ia terlalu kesal kepada ibunya sampai membuatnya melupakan makan paginya. Sial, umpatnya.

“Sosis Bakar, menunda rasa lapar anda untuk sementara ~” teriak salah satu penjual Sosis Bakar yang berada di dekat pohon, yang sempat melihat Yejin memegang perutnya.

Yejin kembali berjalan tanpa memperdulikan rasa laparnya, ia hanya ingin segera menemui Luhan dan meminta tanda tangan. Lalu, saat nanti ia pulang ia bisa makan sepuasnya. Itu saja yang ingin ia lakukan sekarang.

Kriiuukk.

Perutnya kembali berbunyi, Yejin memegang perutnya kembali. Ok, dia sekarang benar-benar merasa lapar bahkan perutnya mulai melilit seperti meronta meminta makan padanya.

“SOSIS BAKAR BAGI YANG BELUM MAKAN !” ucap penjual itu agak keras. Mungkin penjual itu memberi kode agar Yejin segera membeli.

Yejin meruntuk kesal dalam hati, gadis itu mulai berjalan mendekati toko Sosis Bakar itu, dan memesan Sosis Bakar yang berukuran jumbo untuknya, ia tak yakin ia bisa menghabiskan semuanya.

Yejin berjalan dengan cepat, ia terlalu lama membuang-buang waktunya untuk bertemu Luhan dengan mengelilingi setiap penjual makanan. Yejin kini berjalan semakin cepat, dengan tangan kanannya memegang sosis bakar.

Dari kejauhan tampak, kerumunan gadis-gadis berteriak EXO, ia yakin EXO berada disana. Yejin tersenyum senang, “Sedikit lagi.”

Yejin mulai berusaha memasuki kerumunan gadis itu dengan tenaganya yang tersisa. Sesekali ia mendengar amarah fans yang tidak suka dengan kelakuannya, tapi seorang Jung Yejin tidak akan peduli dengan hal itu. Ia hanya ingin tugasnya selesai.

“Astaga..” ucap Yejin yang mulai terasa susah bernafas di tengah kerumunan gadis-gadis itu. Yejin mencoba mencari posisi Luhan sekarang. Laki-laki itu berdiri 5 meter darinya, ia tengah menyalami fans-nya dengan tersenyum ramah.

Tunggu aku, Luhan-ssi. Batinnya

Sedikit lagi, gadis itu berjalan dengan kuat mendorong gadis-gadis yang menurutnya mengganggu jalannya. Mungkin jarak Yejin dengan Luhan berkisar 1 meter, Yejin semakin bersemangat. Sayang, salah satu fans menjegal Yejin karena tidak suka kelakuannya, membuat gadis itu terjatuh kedepan bahkan sosis bakarnya pun terbang entah kemana.

“Aduh.” Keluhnya.

“Astaga. Lihat baju Luhan Oppa, ada noda merah. Aku ingin membersihkannya !”

“Luhan Oppa biarkan aku membersihkannya !”

“Luhan Oppa siapa yang tega memberimu sosis bakar ?”

Teriakan gadis-gadis itu menggema di gendang telinga Jung Yejin. Gadis itu segera bangkit dan berjalan mendekati Luhan. Namun, langkahnya terhenti menatap pemandangan dihadapannya. Oh My God.

Luhan tampak dingin, kemeja yang ia gunakan tampak terkena noda merah, sepertinya Yejin mengenali apa noda itu. Bahkan di kemeja Luhan tampak sebuah Sosis Bakar menempel.

Yejin mendekati Luhan tanpa memperdulikan bodyguard yang menghalanginya, “Astaga, sosisku !”

Luhan menatap gadis yang berada dihadapannya itu dengan dingin, “Kau yang membawa sosis bakar itu kemari ?”

Yejin mengangguk cepat, “Dimana sosisku ?!”

Luhan menatapnya kesal, “Nona sosismu telah menodai kemeja saya. Anda harus bertanggung jawab. Bagaimanapun caranya.”

Yejin membulatkan matanya tidak percaya, gadis itu menatap manik mata Luhan yang sayu, “Astaga Tuan, anda adalah seorang artis yang mungkin mempunyai uang sangat banyak. Anda mungkin mampu membeli lusinan kemeja itu !”

Luhan terdiam sejenak, “Nona, saya hanya ingin anda mengganti rugi kemeja saya. Tidak lebih.”

Yejin menatap Luhan geram, bagaimana bisa seorang artis ternama yang sedang naik daun itu marah hanya karena sosis bakar yang terjatuh secara tidak sengaja menodai kemejanya ?

“Anda berlebihan, Luhan-ssi.” Ucap Yejin tajam. Luhan bangkit ingin menghampiri gadis itu, hanya saja seorang laki-laki tampan dengan bibir yang seksi itu menahannya. Jika tidak salah, ia bernama Kim Minseok, kalau tidak salah ia kerap dipanggil Xiumin.

“Sudahlah Lu, gwechana. Kita sedang menjadi tamu di acara ini.” Luhan kembali duduk, laki-laki yang bernama Xiumin itu menatap Yejin.

Mianhamnida, agashi anda tidak perlu menggantinya. Kurasa jika dicuci noda itu akan hilang.” Ucap Xiumin. Yejin yang saat itu benar-benar merasa tidak terima dengan keadaan itu segera mengambil dompetnya yang entah isinya ada atau tidak. Gadis itu dengan cepat melempar dompetnya tepat ke wajah Luhan.

Brug.

Hening.

Beberapa detik.

“Astaga apa yang kau lakukan terhadap, Luhan ?” ucap Xiumin terkejut. Yejin tersenyum sinis kepada Luhan, “Ambil semua uangku tuan. Semoga cukup untuk membelikan kemeja baru. Idola yang sangat memuakkan.” Ucap Yejin.

Yejin berbalik dengan cepat. Dengan kasar gadis itu mendorong sasaeng fans yang menutup jalannya. Dengan enggan ia segera memasuki sebuah taxi walaupun ia tidak membawa uang sepersen pun.

Luhan terpaku di tempat duduknya dengan tidak percaya, apa gadis itu baru saja mempermalukannya di depan umum ? Sialan kau.

‘Dasar gadis gila.’ Maki Luhan.

~ooOoo~

 

Yejin memasuki rumah dengan terburu-bur, tanpa memperdulikan ibunya yang memanggilnya. Yejin segera memasuki kamar dan menguncinya dengan rapat. Gadis itu memegang jantungnya yang masih memacu dengan sangat cepat.

“Astaga, aku mengerti sekarang. Mengapa Eunso begitu mengagumi Luhan. Dia benar-benar tampan.” Ucap gadis itu pelan dengan masih mengatur nafasnya yang naik turun karena berlari.

Aniyo, Yejin-ah kau bukan penggemar mereka untuk apa kau memujinya ? Apalagi Luhan yang jelas-jelas membuatmu malu di depan umum ?” tanya pada diri sendiri. Yejin memukul kepalanya pelan. Entah mengapa saat pertama kali bertemu Luhan, ia merasa sesuatu yang aneh bahkan ia sendiri susah mendeskripsikannya. Apa ini pertanda ia seorang penggemar yang jatuh hati pada pandangan pertama ? Atau hanya firasatnya saja ?

Astaga. Jangan bilang ia akan menjadi korban ketampanan Luhan.

~ooOoo~

 

Yejin, gadis itu berjalan dengan langkah gontai, kantung matanya menghitam dan membesar. Sangat terlihat bahwa ia kurang tidur tadi malam. Gadis itu melangkah dengan tubuh yang tidak tegap, seolah ia berjalan hanya dengan separuh nyawanya, entah kemana separuh nyawanya yang lain. Yejin menghembuskan nafas pelan, tadi malam ia benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan Luhan. Entah mengapa bisa ia tidak bisa tidur karena Luhan ?

Ini benar-benar aneh. Gumannya dalam hati.

“Hei, Jung Yejin !” panggil seseorang. Yejin berhenti berjalan, dan membalikkan badan mencoba menatap siapa yang tengah mengajaknya berbicara itu. Park Eunso.

“Eunso-ya ? Kenapa datang sangat pagi ?” tanya Yejin dengan alis mata yang terangkat sebelah. Eunso menghampirinya dengan tersenyum miring.

“Aku ingin bercerita banyak hari ini. Jadi, kurasa aku harus menemuimu.” Ucap Eunso yang kini tepat dihadapannya.

“Oh.” Jawab Yejin ber-oh-ria. Eunso menggangguk kecil, “Kemarin kudengar Luhan mendapat insiden kecil. Kau tahu apa insiden kecil itu?”

Yejin berhenti berjalan, jantungnya mulai berdegup kencang, semoga Eunso tidak mengetahui jika itu dirinya. Kumohon.

Aniyo.” Yejin berusah menutupi rasa gugupnya. “Sebuah Sosis Bakar mengenai kemeja Luhan. Aku benar-benar terkejut, dasar fans gila. Ia tidak perlu melakukan hal itu untuk berbicara langsung dengan Luhan. Menjijikan.”

Yejin membekap mulutnya pelan, teman dekatnya bahkan berbicara seperti itu akibat insiden kemarin. Bagaimana jika semua orang tahu jika, tersangka dari insiden tersebut adalah Jung Yejin ?

“Yejin-ah ?”

“Yejin !”

Yejin mengerjapkan matanya setelah merasa badannya terguncang pelan, “Nde?”

“Kau melamun ?” Eunso menatapnya bingung. Yejin menatap manik mata Eunso, “Eunso-ya, aku yang melakukannya.”

Eunso menatapnya semakin bingung, “Apa yang kau lakukan ?”

Yejin memegang bahu Eunso erat, “Aku yang melempar Sosis Bakar kepada Luhan. Aku yang melakukannya.” Eunso mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba menyerap setiap kalimat yang diucapkan oleh Yejin.

“Kau apa—sosis bakar itu ?! Jangan bercanda !” teriak Eunso. Yejin menggeleng pelan sebagai jawaban, Eunso tercengang lebar. Eunso memukul kepalanya kerasa, mencoba mengingatkan bahwa ini hanya mimpi saja. Ternyata tidak.

Eunso menarik Yejin menuju arah bangku taman yang terlihat kosong dibawah pohon maple yang tampak mulai rimbun. Eunso mendudukan Yejin tepat disampingnya, Eunso tak henti-hentinya memukul kepalanya.

“Eunso-ya, berhenti memukul kepalamu. Ini bukan mimpi, aku tahu kau pasti terkejut akan hal ini—“

“Tentu saja terkejut, bodoh !” sela Eunso. Yejin mengangguk cepat, “Aku akan menceritakan kejadiannya padamu. Tapi, maukah kau membantuku ?”

Eunso mengangguk pelan, “Sejak kapan aku tidak pernah mau membantumu ?” Yejin tersenyum manis mendengar jawaban teman dekatnya itu.

~ooOoo~

 

Disinilah ia berdiri sekarang, di pusat perbelanjaan ternama di Seoul. Entah dorongan darimana ia menapak kan kakinya yang mulus di pusat perbelanjaan terkenal seperti ini. (karena ia tidak suka berbelanja di tempat terkenal, yang pasti sangat ramai) .

“Jadi, kemeja seperti apa yang ingin kau beli untuk Luhan ?” tanya Eunso memulai percakapann. Yejin tersenyum tipis, “Entahlah aku lupa motif kemeja namja itu. Kau tahu motifnya, bukan ?”

Eunso menggeleng pelan, “Sudah kuduga, aku mengingatnya. Bagaimana jika kita mencoba ke Channel saja?” Yejin membulatkan matanya, “Kau bercanda ? Pasti disana sangat mahal. Bagaimana jika kita membeli di matahari saja ?”

Eunso tampak berpikir lalu gadis itu mengangguk cepat, “Baiklah. Mungkin harga disana sedikit miring. Kau tahu, kau sangat aneh Yejin-ah. Kau sangat mampu tetapi tak pernah memperlihatkannya.”

“Aku bukan orang seperti itu. Kajja.”

~ooOoo~

 

Luhan menyeruput dengan pelan cappucinonya yang telah menjadi dingin karena sang empu membiarkannya selama satu jam. Luhan menatap kemeja kesayangannya dengan kesal, ada juga rasa sedih disana. Ia membeli kemeja itu dengan uang tabungannya sendiri, sebelum ia menjadi orang sukses seperti sekarang, dan itu cukup lumayan membutuhkan waktu lama agar seluruh uangnya terkumpul.

“Gadis itu, astaga. Jangan sampai aku bertemu dengannya lagi.” Keluhnya.

“Kau masih memikirkan Jung Yejin ?” tanya seseorang. Luhan mengangguk tanpa menatap siapa yang mengajaknya bicara, karena ia sangat mengenali suara laki-laki itu. Laki-laki itu lumayan cukup dekat dengannya.

“Xiumin-ah, siapa yang tidak kesal, huh? Dia mempermalukanku.” Ucap Luhan dengan tegas, tampak sekali ia masih merasa kesal dengan gadis yang bermarga Jung itu.

Xiumin menepuk bahu Luhan pelan, “Kenapa tidak mencoba melupakan kejadian itu saja ? Jangan berlebihan.” Luhan mengangguk pelan mengiyakan sebagai jawaban, Xiumin tersenyum menampakkan bentuk pipinya yang chubby itu.

Luhan bangkit, berjalan mendekati Xiumin, “Xiumin-ah, dimana acara kita selanjutnya ?”

“Tepat di depan Gedung SMEnt. Bersiaplah.”

Arraseo.”

~ooOoo~

 

Yejin terduduk lemas di lobby gedung besar nan megah milik SM, ternyata mencari kemeja yang sama seperti milik Luhan benar-benar sangat susah. Karena kemeja itu keluar hanya pada tahun 2011. Beruntunglah, ia berhenti disebuah toko yang tampak sederhana saja. Tapi, disana mereka menyediakan banyak kemeja keluaran pada tahun-tahun tertentu, setidaknya ia bisa bernafas lega saat menemukan kemeja Luhan.

“Bagaimana Eunso-ya ?” Yejin bangkit dari kursinya menghampiri Eunso yang sempat bertanya bolehkah mereka bertemu dengan Luhan atau sekedar menitipkan barang untuk Luhan ? Eunso menggeleng pelan, “Mian, mereka tidak mau. Lantas, apa yang harus kita lakukan ?”

Yejin menarik nafas dalam, “Mianhae. Kau menjadi terlibat.” Eunso menggeleng pelan, “Gwechana, bukankah kita teman ?”

“Tunggu. Kau bisa men-stalk mereka, bukan?” tanya Yejin saat secerah harapan mucul di otaknya secara tiba-tiba. Eunso mengangguk setuju, gadis itu mulai mencari tahu dimana lokasi EXO sekarang.

“Yejin-ah, kurasa sebentar lagi kita akan bertemu EXO.” Ucap Eunso dengan tersenyum senang. “Benarkah ? Dimana ?”

Eunso bangkit dari kursinya, “Dibelakangmu.” Eunso menunjuk arah belakang Yejin, Yejin segera membalikkan badan dan menatap EXO berjalan pelan menuju pintu gedung SM. Tanpa berpikir panjang Yejin mengangkat barang bawannya dan berlari mendekati EXO.

“Luhan-ssi !” panggil Yejin. Salah satu member EXO menatap Yejin dengan bingung, lalu memberi tanda kepada Luhan bahwa seseorang memanggilnya. Luhan segera membalikkan badan dan menatap siapa yang memanggilnya. Saat itu juga Yejin melihat mata sayu Luhan berubah menjadi dingin. Disaat itu juga Yejin teringat masa lalunya yang sempat ia lupakan, dan ia kubur dalam-dalam. Bukan karena sangat kelam, melainkan begitu memalukan.

Masa lalu itu. Ia ingat dengan sangat jelas.

~ooOoo~

 

Luhan membalikkan badan saat Chen memberitahunya bahwa seseorang memanggilnya. Luhan menatap seorang gadis yang tengah menghampirinya dengan tas jinjing di tangan kirinya, mungkin gadis itu habis berbelanja entah kemana. Tapi, ia ingat wajah gadis itu. Gadis yang membuatnya malu di depan umum, gadis yang melempar sosis bakar secara tidak sengaja (tetapi menurutnya itu sengaja).

Gadis itu masih tengah berlari mendekatinya, sayangnya gadis itu tidak menatap tanda peringatan bahwa lantai itu masih basah. Akibat kecerobohannya gadis itu terpeleset dengan posisi telentang, membuat semua belanjaan yang tengah ia bawa terjatuh begitu saja. Semua mata menatapnya kasihan.

Gadis itu kini tengah berada tepat dibawah Luhan, ah tidak tepatnya di depan sepatu Luhan. Gadis yang bernama Yejin itu berusaha mendudukkan badannya yang lemas.

“Aduh.” Erangnya. Luhan menatapnya masih dengan tatapan dinginnya.

Agashi, gwechana ?” tanya Suho sang malaikat tanpa sayap itu mendekati gadis itu dan membantunya untuk duduk. Member EXO yang lain pun mulai memberi perhatian pada gadis itu, tapi tidak dengan Luhan. Ia tetap berdiri tegap seperti posisinya semula, seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Hyung, kenapa hanya diam, huh ?” tanya Baekhyun yang menatap Luhan tidak bereaksi sama sekali akan kejadian ini. Luhan menatap Baekhyun, “Memangnya aku harus apa ? Biarkan saja. Toh nanti dia akan berjalan kembali.”

Aniyo, Baekhyun-ssi. Gwechana.” Ucap Yejin yang kini tengah berdiri diantara Luhan dan Baekhyun yang sempat berdebat. Luhan mengangguk menyetujui ucapan gadis itu.

Agashi, sebenarnya apa yang kau lakukan sampai berlari kearah kami ?” tanya Suho dengan pelan. Yejin yang merasa diajak berbicara membalikkan badan, “Aku ingin memberikan kemeja yang kubeli untuk Luhan-ssi. Sebagai ganti atas kecelakaan kemarin.”

Luhan menatap Yejin dari atas hingga bawah, Yejin yang merasa dirinya diperhatikan segera membuka percakapan kembali, “Ige.” Yejin memberikan tas belanjaan yang sedari tadi ia pegang kepada Luhan.

Luhan menatap gadis itu penuh selidik, “Kau tidak berniat memberiku bom, bukan?” Yejin menatap Luhan dengan aneh, ‘Apa dia pikir aku sejahat itu, huh?’

Hyung, dia kan berniat baik.” Ucap Chanyeol membela Yejin. “Arraseo.” Ucap Luhan, laki-laki itu berbalik dan berjalan pelan menjauhi EXO dan juga gadis gila itu. Membuat Yejin dikelilingi tanda tanya besar.

~ooOoo~

‘Aku sejak lama menyimpan perasaan untukmu, jadi kau harus mau menjadi kekasihku. Jangan menolakku, ya?’

‘Luhan, ada yang mencarimu.’

‘Si gadis kuncir kuda bermata bulat itu, kurasa dia menyukaimu.’

‘Bagaimana perasaanmu padanya ?’

‘Dia sangat cantik, jika kau menolaknya. Aku tidak segan-segan segera mengencaninya.’

Luhan membuka matanya perlahan, ah mimpi itu lagi. Mimpi masa lalunya saat ia kecil, ia bukan hilang ingatan. Hanya saja gadis itu, gadis yang sangat berani mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Luhan didepan teman satu kelasnya. Dan itu menurutnya sesuatu yang ekstrem.

“Kau memimpikan cinta pertamamu lagi, Luhan-ah?” tanya Lay yang kini tengah duduk diseberang sofa yang ia pakai untuk tidur siang. Luhan terkekeh pelan mendengar tebakan Lay yang menurutnya selalu benar (apa memang Lay seorang peramal ?)

“Ya, beberapa hari ini aku semakin memimpikannya. Aku merasa seakan aku dekat dengannya, sekarang.” Jawab Luhan. Lay menepuk bahunya pelan, “Kurasa kau akan menemukannya, tidak lama lagi.”

“Ya, mungkin.”

“Luhan-ah, apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengannya ? Apa kau akan menjawab pertanyaannya yang dulu ?”

“Entahlah, Yixing-ah mungkin aku melakukan sesuatu yang gila.”

~ooOoo~

 

Yejin menggigit jari-jari mungilnya itu dengan gemetar, rasa itu kembali lagi. Rasa yang sempat ia pendam beberapa tahun silam ini.

“Astaga Yejin, kau ingin bunuh diri dengan menggigit jarimu hingga berdarah, huh?” teriak Eomma, teriakan eomma membuatnya sadar dari lamunannya sebentar.

Aniyo eomma, aku hanya sedang melamun saja.” Jawab Yejin sekenanya. Eomma menggeleng pelan melihat kelakuan putri satu-satunya itu, jika mendiang suaminya itu melihat kelakuan putrinya sekarang mungkin hanya menggelengkan kepala saja.

“Apa yang membuatmu melamun ?”

Yejin menunduk dalam, “Aku bertemu kembali dengannya, eomma.” Eomma menatap Yejin dengan aneh, “Siapa ? Apa kau mempunyai kekasih sekarang ?”

Aniyo. Aku bertemu kembali dengannya. Cinta pertamaku.” Yejin tersenyum kikuk, ia merasa aneh jika ia bercerita kepada ibunya, apalagi ibunya biasanya suka sekali menyindirnya masalah laki-laki.

“Kau apa—cinta pertamamu ? Dimana ? Bisakah kau membawanya kemari ?” tanya Eomma terkejut.

Yejin terkekeh pelan, “Eomma ini sudah malam, saatnya tidur. Lagi pula, dia sangat sibuk dan kupikir ia tidak akan mengingatku lagi.”

Eomma menggeleng pelan, wanita paruh baya itu berbalik dan berjalan mendekati pintu kamar putrinya Yejin, sebelum keluar Eomma menatap kembali Yejin yang membalikkan badannya menghadap tembok.

“Yejin-ah, jika kita ditakdirkan untuk bersama sejak awal. Maka kau akan bersamanya. Walaupun jarak seratus mil sekalipun.”

Eomma menutup pintu kamar Yejin rapat.

~ooOoo~

 

Luhan berjalan kesana-kemari, malam ini ia tidak bisa tidur sama sekali. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Tapi, ia tidak apa itu.

Beep. Beep

Sebuah panggilan masuk membuat ponsel yang berada disakunya bergetar keras. Luhan segera merogoh saku celananya dan membuka kunci layar ponselnya.

“Halo ?”

“Luhan, kau belum tidur ?”

“Ah ibu rupanya, belum bu. Ada apa?”

“Tidak apa-apa hanya saja tiba-tiba ibu merasa harus menelponmu sekarang, jadi ibu memutuskan untuk menelponmu. Ternyata kau belum tidur. Kenapa belum tidur ?”

“Aku tidak bisa tidur, bu.”

“Kau punya masalah Luhan ?”

“Tidak.”

“Kau membohongi ibumu, sayang.”

“Baiklah, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku bu.”

“Ceritakan pada ibu.”

“Ibu harus janji untuk tidak menertawakan ceritaku, ya ?”

“Ya. Cepat sebelum semakin larut.”

“Beberapa hari ini aku memimpikan seorang gadis kecil bu, gadis itu berkuncir kuda bermata bulat. Dia cantik, menurutku. Aku bermimpi dia mengungkapkan persaannya padaku saat di dalam kelas, tapi aku tidak menjawab pertanyaannya. Kalau tidak salah itu terjadi di bulan Desember saat menjelang liburan musim dingin, aku masih duduk di kelas 6 SD.”

“…”

“Bu ?”

“HAHAHAHA ! Luhan ceritamu sangat lucu sekali.”

“Ibu berjanji tidak akan tertawa !”

“Ibu hanya menjawab ya, bukan berarti ibu berjanji tidak tertawa, bukan ?”

“Baiklah, kututup saja.”

“Hei, tunggu. Ibu tahu cerita itu.”

“Apa maksud ibu ?”

“Jangan tutup dulu  jika ingin ibu menceritakannya padamu.”

“Baiklah.”

“Dulu, sejak kecil kau sering berbagi cerita kepada ibu. Tapi semenjak kamu SMP ibu sudah jarang mendengar cerita-cerita. Tapi sekarang kau mau berbagi lagi dengan ibu, ibu sangat senang Lu—“

“Langsung pada intinya saja, bu.”

“Baiklah-baiklah. Dulu sebelum liburan musim dingin kau bercerita pada ibu bahwa seorang adik kelasmu menyatakan perasaannya padamu, kau bilang pada ibu bahwa gadis itu cantik sekali, tapi kau belum memberinya jawaban. Kau berniat memberinya jawaban saat liburan musim dingin telah usai. Kita sekeluarga berangkat ke Korea untuk berlibur, namun sesuatu buruk menimpamu Luhan, kau terkena paru-paru basah. Ibu dan ayah sangat khawatir, kami tidak berpikir panjang akan hal itu. Kami memutuskan untuk memindahkanmu sekolah sementara di Korea. Setelah dokter memberitahu kami kau sudah bisa di bawa kembali ke China, ibu mendaftarkanmu di SMP yang lumayan dekat dengan rumah. Tapi kau terlihat tidak senang, ibu khawatir. Setelah ibu menanyakan alasannya pada temanmua ibu baru tahu itu. Kau sedih karena gadis cantik itu sudah tidak bersekolah kembali di China. Melainkan di Korea.”

“Ibu ini seperti drama serial di TV.”

“Tapi ini ceritamu sendiri Luhan.”

“Ibu, apa aku pernah menyebut nama gadis cilik itu di ibu ?”

“Ah iya, eum—Kim Yura ?”

“Bu, dia gadis yang suka be-ol dicelana, yang menyukaiku sejak TK.”

“Yu Shinwen ?”

“Dia temanku les yang suka mengupil dengan jempol kakinya.”

“Lee Hana?”

“Bukan.”

“Ahn Jikyung?”

“Ibu, apa benar-benar tidak ingat ?!”

“Sebentar, biar ibu mengingatnya.”

“…”

“Lu, kau masih disana, ‘kan ?”

“Iya bu.”

“Ibu mengingatnya.”

“Siapa ?”

“Gadis cantik yang sering tersenyum kepada ibu jika usai mengantarmu sampai gerbang. Ia selalu ada untuk mengikutimu dari belakang.”

“Ya,ya,ya. Siapa namanya, bu ?”

“Jung Yejin. Ya Jung Yejin, itulah namanya.”

~ooOoo~

Hai-hai ! Aku datang lagi dengan ff gaje sekali ini -_- apakah ada yang mengerti alur cerita ini ? Atau pada enggak ngerti sama sekali cerita ini ? -_- Bagi yang sudah membuka dan membaca ff ini, tolong berikan komentar di kolom bawah ini ya😀 terima kasih  !

One response to “Story of Her (1/2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s