[Drabble] An Afternoon With Him

yh vers

Title: An Afternoon With Him

Author: Annzi Jung

Main Cast:

Kwon Yuri

Xi Luhan

Genre: Romance, fluff, AU

Rating: Teens

Lenght: Drabble

Disclaimer:

Story and art is purely mine.

All cast belong to God, theyself, their company, and their parents.

Warning:

Typos everywhere.

Don’t like don’t read.

Leave a comment after read.

This fic already post on my blog with different pair.

***

                Aku menunggunya di sore itu.

Dipayungi langit sore yang berwarna jingga. Sungguh pemandangan yang indah.

Aku duduk di sebuah ayunan yang menggantung di sebuah pohon besar. Aku tidak tahu nama pohon itu apa, tapi orang-orang di desaku menyebutnya sebagai pohon Akasia.

Angin sepoi-sepoi meniup pelan helaian rambutku yang berwarna cokelat tua. Aku menutup mataku merasakan angin segar di sore itu.

Dress putih selututku sesekali melayang ditiup angin sore. Sungguh sore yang indah.

Aku mengayun ayunan tua yang hampir lapuk itu menggunakan kedua kakiku. Seperti seorang anak kecil.

Sambil menyenandungkan sebuah lagu, aku tetap berayun. Masih setiap menunggu kedatangannya.

Bibirku mengulas senyuman tatkala mengingat wajahnya.

                Lalu, tiba-tiba aku merasakan ayunanku berhenti. Seperti ada seseorang yang menghentikannya.

Mataku yang tadinya terpejam, kini kubuka perlahan. Tidak ada siapa-sapa dihadapanku.

Tapi, ketika aku membalikkan badan, mata cokelat jernih itu menangkapku.

Aku terkesiap, tidak bisa memalingkan pandanganku dari kedua bola mata itu.

Sang pemilik mata menyunggingkan senyum.

Di detik berikutnya, ia memutar ayunanku dan berlutut di hadapanku.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya sambil tetap memegang tali ayunan.

Aku memegang dagu. Membuat pose berpikir. “Berapa lama ya? Hm, sekitar setengah sampai satu jam yang lalu.”

Ia kembali menyunggingkan senyuman. “Benarkah? Selama itu?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Maafkan aku.” Ujarnya tulus.

Aku pura-pura cemberut—tidak membalas perkataannya.

“Jangan membuat ekspresi seperti itu.” Ia mencubit hidungku gemas. “Apa ada cara agar kau mau memaafkanku?”

“Ada.” Aku berucap kegirangan. “Nyanyikan sebuah lagu untukku. Maka aku akan memaafkanmu.”

Ia membulatkan kedua mata cokelat jernihnya. “Menyanyi? Aku tidak bisa. Suaraku jelek aku tidak bisa menyanyi Yuri-ya.” Ucapnya bersungguh-sungguh.

Aku kembali cemberut. “Sekalipun itu untukku, Luhan?”

Mata cokelat tuaku bertubrukan dengan cokelat jernih miliknya.

Aku menatapnya dengan ekspresi kecewa bercampur sedih.

Ia terdiam. Melirikku kemudian menggaruk kepalanya.

“Baiklah,” ucapnya menyerah. “Ini demimu.” Lanjutnya. Kalimatnya sukses membuat pipiku memerah.

Lalu ia menarik napas kemudian bernyanyi,

You’re just too good to be true

Can’t take my eyes off of you

You’d be like heaven to touch

I wanna hold you so much

At long last love has arrived

I thank God I’m alive

You’re just too good to be true

Can’t take my eyes off of you.

Diakhir nyanyiannya ia tersenyum.

Aku lalu balas tersenyum sambil bertepuk tangan.

“Suaramu bagus. Siapa bilang jelek.”

Lagi, ia menggaruk belakang kepalanya. Dengan samar, aku dapat melihat pipinya yang memerah.

Ia malu kupuji begitu?

Seperti ada yang menggelitik perutku, dan dengan spontan akupun tertawa kecil.

Luhan terlihat mengangkat sebelah alisnya. Sepertinya ia heran kenapa aku tertawa.

“Benar ‘kan. Sudah kubilang kalau suaraku jelek.” Ujarnya.

Oh my… sepertinya ia salah paham.

“Bu… bukan itu. Suaramu tidak jelek. Sungguh.” Kataku menjelaskan.

“Lalu? Kenapa kau tertawa begitu?” ia memasang ekspresi sedih.

“itu… karena… ah sudah lupakan. Tidak penting. Yang terpenting sekarang, kau ingat kalau sore ini kau punya misi yang penting?”

Luhan mengangguk. Wajahnya nampak tegang. Ia melepas tangannya dari tali ayunan dan dengan cepat ia menarik tanganku dan mendekapku ke dalam pelukannya.

Aku bisa merasakan detak jantungnya yang memompa lebih cepat.

“Aku… tegang Yuri-ya. Ini pertama kalinya buatku. Aku… bingung harus mengatakan apa.”

Aku tersenyum kecil mendengar perkataannya. Aku lalu mengelus pelan punggungnya. Berharap dengan elusanku itu aku bisa menambah sedikit keberanian dalam dirinya.

“Ternyata Lulu bisa gugup juga ya?” kataku mengejek.

Ia mendengus. “Tentu saja.”

“Tenang saja. Ayahku bukan singa yang ingin memakanmu.” Ucapku sedikit tertawa.

“Jangan bercanda. Aku sangat tegang, apa kau tidak bisa merasakannya?”

Tentu saja aku bisa merasakannya. Detak jantungmu sudah cukup menjelaskan bahwa kau sangat tegang, Xi Luhan.

“Bilang saja, tuan Kwon, saya ingin melamar anak anda. Mudah ‘kan?”

Luhan nampak menghela napas berat lalu mengelus pelan puncak kepalaku.

“Ini tidak semudah yang kau katakan, calon Nyonya Xi.”

|FIN|

Author’s Note:

Mind to leave a comment?

13 responses to “[Drabble] An Afternoon With Him

  1. Ha‎​♣ĥǟª=))ĥǟª=))ĥǟª=))♣ĥǟª=))ĥǟª=))♣♣ĥǟª=))ĥǟª=))
    Ayahmu yuri kris kah???
    Ato ini Åϑà cerita pki cast yg lain???
    Sequel.. Wahh aq baru kali ini muncul lgi ff ceritax ttg melamar seseorg😀
    Dtgu ff selanjutx…

  2. Annyeong saeng~ie🙂 prasaan udh lama yaa gak baca ff-mu. Hha~ nan bogoshippo ({})
    Aishh ,, sweetmoment eyy YulHan’x :*
    bt , ituh akhir’x koqq ky’ ngegantunggantung gtuh yaa ? Hhe~
    Adakah sequel’x , saeng ? ?
    Ttap smangat & truz brkarya ne ? Chayyo !! ^^)9

  3. kyaaa kyaaa so sweet yulhan . thor bnyakin buat ff yg main castnya lulu sma yuri yah soalnya aku cinta bgt sma couple ini hehe

  4. Wiiihh sweet couple nih,,
    Itu yg ngegelitik yuri apaan,, kenapa bisa tiba” ketawa” gitu ??
    Bikin sequel,, pas luhan dtg k keluarga kwon buat melamar yuri..
    Hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s