Forever Memories

fm.jpg

Author: xianhyuk

Original Title: Forever Memories

Cast:

– Jazmyn Choi (OC)

– Wu Yi Fan / Kris

– and other

“…aku tidak mengerti. Dan, selamanya, aku mencoba untuk tak mengerti. Itu jelas membuatku sakit.”

Colorado, USA

Choi’s Private House

Jazmyn Choi memegang erat mug yang ia pegang sekarang. Merasakan hangat menjalar dari secangkir teh panas ke indera perabanya. Jazmyn Choi menghela napasnya, sebentar lagi musim dingin tiba. Ia akan segera bergegas untuk keluar dari rumah persembunyiannya yang sangat mewah itu untuk menyapa dunia luar yang sekarang terasa asing baginya. “I think it will get worse.” Jazmyn menoleh dan mendapati seorang Jason Choi berdiri menyenderkan tubuhnya ke pilar putih nan kokoh beserta melipat tangannya. “Is ‘sorry’ word doesn’t worth for you? Jazmyn tetap diam memandang keluar jendela kaca. Hari ini cuaca sangat dingin ditambah dengan gemericik hujan membasahi Colorado sore itu.

“Ah, sangat keras kepala. Pantas saja Brian sering mengeluh betapa abnormalnya kau,” sindir Jason yang merasa tak dianggap oleh adiknya. “It will never get worse if he never make another problem,” kata Jazmyn angkat bicara. Jason mulai bercekikikan ria di tempatnya. “The problem never exist if you two never have a ‘terrify’ argument.” Jazmyn kembali menatap mug nya. “Stop. Kau membuatku merasa paling jahat di sini.”

“Ha? Kukira, kau memang yang paling jahat,” ledek Jason. Jazmyn tak menanggapinya. Ia justru asik me-replay segala kejadian berharga dalam hidupnya.

 

Flashback

 

“Apa ini?” tanya Jazmyn. Lelaki itu tersenyum kecil sambil memandang penuh arti. “Menurut mu?” Jazmyn semakin memiringkan kepalanya, berusaha menebak dan memutar otaknya yang sayangnya tidak terputar-putar. Kris tertawa dan membuka bungkusan itu cepat. “Ah, otak mu memang tidak kaya akan ilmu pengetahuan. Ini coklat. Kemarin keluarga ku menjenguk nuna di Swiss dan aku membelikan mu ini.” Jazmyn tersenyum simpul. romantis, pikirnya. Kris membukanya perlahan dan memberikannya pada Jazmyn. “Gigi-mu takkan rusak dengan coklat mahal seperti ini,” tanggap Kris saat melihat muka Jazmyn yang ketakutan jika giginya akan rontok saat memakan coklat yang manis itu.

“Ah, kau ternyata benar-benar idiot. Ini dark chocolate. Percuma saja kau sering keliling dunia tanpa tahu ini apa,” ledek Kris yang membuat Jazmyn mencubit tangannya. “I’m not an idiot.” Kris tertawa sambil menyuapi Jazmyn coklat yang ada di tangannya.

 

End of Flashback

 

Jason tahu adiknya sangat merindukan Kris-nya. Jason tahu adiknya masih sering memutar ulang kenangan manis bersama lelaki berparas berandalan itu—setidaknya, itu hanya opini Jason. “Aku tahu, dik. It’s hard.” Jazmyn menunjukan senyuman tipis pada kakaknya. “Apa kau pikir sebaiknya aku datang ke acara mereka tiga hari lagi?” Jason menggeleng. Tidak. Tidak. Dan tidak. Adiknya tidak boleh berlinang air mata di bawah kebahagiaan orang lain. “It’s not a good idea,” tukas Jason dingin.

“Aku baru tahu, seorang kakak lelaki bisa cemburu pada orang yang telah menyakiti adiknya.” Jason tertawa. “Oh, tidak. Hanya saja…—“ Jason berhenti untuk mengambil napas. Ia tahu, mungkin sulit memberikan pengertian pada adik kecilnya itu. Tapi, Jazmyn justru mengulas senyuman manis yang dulu sering Jason lihat. “Kau takut aku akan kecewa. Iya, kan?” tanya Jazmyn. Iya, aku takut kau akan kecewa, balas Jason dalam hatinya. Jazmyn tersenyum lagi. “Apa kau tidak pernah percaya pada ku setelah tujuhbelas tahun tinggal bersama?” Jason terdiam. Ini bukan masalah berapa lama ia sudah tinggal bersama Jazmyn. Ini bukan masalah seberapa percayanya ia dengan adiknya.

Tunggu sebentar.

Seakan ada bom atom menghantam dirinya, Jason tersadar bahwa dirinya tak pernah percaya pada adiknya. “Aku.—“ Jazmyn memalingkan wajahnya, kembali menatap hujan di balik jendela kaca besar di kediaman privatnya di Colorado. “Aku tidak akan bunuh diri setelah menyaksikan itu, kak. Kau terlalu sering menonton telenovela,” potong Jazmyn.

Jason menelan ludahnya. Ia akan bertanggung jawab pada ayahnya jika benar kejadian di telenovela yang sering ia tonton akan terjadi pada adiknya. Jason tahu, mungkin ada baiknya jika…

 

“Baiklah. Aku akan belikan kau tiket menuju Vancouver sekarang.”

Vancouver, Canada

Kris’s House

 

Kris berdiri memandang pintu besar depan rumahnya. Ia terdiam bisu, seakan gugup untuk menunggu sesuatu atau bahkan seseorang. Setelah di telpon oleh seorang lelaki tadi, ia bersumpah mengutuk hari ini.

Ia akan datang. Aku akan membunuhmu jika ia akan pulang hanya tinggal namanya.”

 

Tok. Tok.

Kris merapikan kaosnya dan memasukan tangannya ke dalam saku celana jeans nya. Saat pintu dibuka oleh pelayan Kris, yang ia lihat adalah sesosok wanita yang paling ia rindukan. Sesosok wanita yang paling ia hormati. Sesosok wanita yang paling ia cintai.

Hi, Kris. How’s going?” sapaan kikuk dari wanita itu membuat Kris serasa berada di mimpinya sendiri. “Hi, Jaz. It’s going good,” jawab Kris. “Come on, go in.” Jazmyn tersenyum dan masuk kedalam rumah mewah Kris.

“Apa kabar Jessica?” tanya Jazmyn sambil membenarkan posisi duduknya. Kris terdiam sesaat. Masih sempat Jazmyn bertanya keadaan Jessica yang jelas-jelas pernah membuat Jazmyn terpuruk? “Dia? Baik.. Sangat baik,” jawab Kris dengan senyuman tipis. “Do you think she is a good girl? You should think it because I think that way,” oceh Jazmyn sambil meminum air putih yang disediakan oleh Kris. Kris tidak angkat bicara. Kenapa? Ia sibuk memandangi wanita yang tetap menjadi no.1 di hatinya.

 

Flashback

“Apa suatu saat nanti kita akan menikah?” Kris tertawa pelan. “Apa kau berharap seperti itu?” tanya Kris. “Umm, you know, if people loving each other they have to married,” jawab Jazmyn yang mengundang tawa Kris. “Kenapa kau memiliki presepsi seperti itu?” Jazmyn memiringkan kepalanya. “Because, I’ve see that.”

This life is not like a movie that has a happy ending. Sometimes, the movie can change they plot to be the happy ending or the sad ending just like God give us the fate.” Jazmyn menatap kosong Kris. “So, sometimes God change the fate? And then, we’re never getting married?” Kris terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. “We’ll see it as soon as possible.

 

End of Flashback

 

“Kris..” Kris kembali tersadar pada dunia nyata setelah Jazmyn menyentuh pundaknya. “Umm, yeah?” Jazmyn tertawa lepas. “Kau melamun? Oh my goodness, ini bisa menjadi trending di E!News!” Kris mau tak mau ikut tertawa dengan anggapan Jazmyn kepada kebiasaan yang sangat tidak biasa miliknya.

“Apa kabar Jason?” tanya Kris kemudian. “He always good. But, after this accident, he always getting mad to himself,” jawab Jazmyn. Kris terdiam lagi. Ternyata, there’s too much the mess that he made. “Sorry,” tanggap Kris cepat. Jazmyn mengangguk pelan. “I think he never want his sister cries a lot because of one boy who stole his sister’s heart.” Kris terdiam lagi.

“Aku minta maaf.” Jazmyn tersenyum kecil. “Iya,” ucap Jazmyn.

Cukup lama mereka terdiam. Sekitar limabelas menit berlalu, keduanya masing berkecimpung di dunia mereka sendiri. Kris tahu, ia harus segera menutup pertemuan ini sebelum akhirnya dirinya dan Jazmyn akan terjebak lebih dalam.

“Kuharap, kau mengerti apa yang telah aku lakukan ini, Jaz,” ucap Kris kemudian. Jazmyn tertawa sinis. “Sulit, asal kau tahu. aku tidak mengerti. Dan, selamanya, aku mencoba untuk tak mengerti. Itu jelas membuatku sakit.”

Deg. Serasa adanya anak panah menembus hati Kris itu membuatnya merasa pecundang di sini.

Sometimes, I wondering how can I falling in love with a boy that never confessing his feel to me. I wondering how can me falling to your life and I cannot go back after that. I wondering why this cruel world wants you and me have a thousand memories to remember. And.—“ Kris menunggu kelanjutan kata-kata dari Jazmyn. Jazmyn menarik napasnya sejenak dan bersiap-siap untuk melanjutkannya. “—how can God pulling you out from my life and unite you with someone who we don’t know before.”

Kris sedikit merasa kecewa pada dirinya ketika melihat senyuman getir Jazmyn terulas karena kalimat yang ditujukan pada dirinya. “Sometimes, I angry to God why can I so bad to someone who I love. Sometimes I angry to God why we met but we’re not getting together after all. Sometimes I angry to God why am I so weak to ignore someone who look like an angel in front of my eyes. And, sometimes I angry to God why he sent me an angel who loves me but I make her cry a lot.” Sesaat, deru napas dari mereka berdua terdengar begitu terengah. Jazmyn berdiri, bersiap untuk melangkah pergi.

And, I think I have an unspoken word for you. After all, after everything that we ever done, I love you Kris. And always be like that. Goodnight.”

Kris hanya bisa menyaksikan punggung Jazmyn yang berjalan keluar dari rumahnya. Malam  terakhir musim gugur yang dingin yang menjadi saksi bisu akhir cintanya bersama seorang Jazmyn Choi, seorang yang telah meninggalkan banyak kenangan indah dalam hidupnya.

Vancouver, Canada

Kris and Jessica’s Wedding Private Party

 

Kris memandang semua hadirin satu persatu dari kursi pengantin. Ia takut jika Jazmyn datang dan membuat segalanya terasa begitu kelam bagi mereka berdua. Oh, tidak. Jazmyn hadir.

Happy wedding to you!” ucap Jazmyn begitu ceria kepada Kris dan Jessica. Jason memandang itu dengan pandangan gelisah. Kris dan Jessica tersenyum. “Thanks for coming!” ujar Jessica senang. Jazmyn membalas senyuman Jessica dengan tulus dan memandang Kris. “Kris, I have some words to tell you. Can you come with me?” Kris memandang Jessica sejenak lalu pergi mengikuti Jazmyn.

“Aku takkan mengganggu kalian. Semoga menjadi keluarga yang bahagia!” ujar Jazmyn cepat dan segera berjalan pergi. Tapi, sayangnya Kris menahan tangan Jazmyn. “Jangan bilang kau akan pergi jauh, Jaz.” Jazmyn berbalik sebentar sambil tersenyum tipis lalu memeluk Kris yang sekarang sudah berstatus sebagai suami orang. “Ya. Ini demi kebaikanmu dan juga Jessica,” ucap Jazmyn sambil perlahan melepas pelukannya. Tapi, Kris justru mempererat pelukannya pada Jazmyn. “Kumohon..” pinta Kris dengan suara serak. “Tidak. You have a wife now, and you should grow a happy family.” Kris menguatkan pelukannya.  Air mata Kris kini berurai.

“Aku mencintaimu, Jaz.” Untuk pertama kalinya, Kris mengucapkan kata ‘cinta’ pada Jazmyn. “Kau seharusnya mengucapkan itu pada istrimu, bodoh.” Kris tertawa kecil. Jazmn segera melepas pelukan Kris dengan cepat dan memandang Kris lekat-lekat. “Jaga Jessica baik-baik, ya?” Kris mengangguk. “Aku akan menelpon jika aku perlu, haha,” canda Jazmyn sambil melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.

Kris membalas lambaian Jazmyn. Ia akan memulai hidup baru tanpa suara Jazmyn. Ia akan memulai hidup baru tanpa ocehan Jazmyn. Ia akan memulai hidup baru tanpa rengekan Jazmyn yang meminta cotton candies di festival kota.

 

“And, sometimes we should realize that God have a good plan to make our life is happier than before and more adventurous.”

-xianhyuk-

 -END-

Xianhyuk’s speak:

Haiii, I’m new author here! So glad to say hi to you! COMMENTS ARE LOVED<3! Aku gak maksa kalian komentar something good:D, karena aku yakin ff yang dibikin dadakan saat malam senin yang menyiksa ini sangat berantakan dengan typo dan wrong grammar-_-

(numpang promosi, jangan lupa untuk kunjungin blog ku ya! haeloveskyu.wordpress.com)

Lovefrom,

Xianhyuk^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s