[Oneshoot] Autumn Love

al ky vers2

Title: Autumn Love

Author: Annzi Jung

Main Cast: Kwon Yuri, Wu Yi Fan/Kris Wu.

Genre: Romance, Fluff

Rating: Teens

Disclaimer: plotnya milik author. Untuk castnya murni milik Tuhan.

Pernah di post di blog pribadiku dengan pairing yang berbeda.

***

Ada dua orang. Lelaki dan perempuan. Mereka berteman sejak kecil. Keduanya sangat akrab dan sangat dekat. Beranjak dewasa, kedua orang itu akhirnya saling jatuh cinta.

Haha. Seperti cerita di film dan novel bukan.? Apa kalian juga pernah mengalaminya?

Bestfriend become love. Aku Kwon Yuri. Aku sedang mengalaminya. Ah tidak. Lebih tepatnya… aku pernah mengalaminya. Kalian tidak keberatan untuk mendengarkan ceritaku.?

Aku jatuh cinta pada sahabatku sejak kecil. Bernama Wu Yi Fan. Tapi aku sering memanggilnya Kris. Nama itu pemberian dariku. Karena, jujur saja aku sulit untuk mengucap nama aslinya.

Aku ingat, saat-saat dimana aku mulai jatuh cinta padanya.

Di saat kami memasuki bangku SMP, waktu itu dia ikut club basket. Ya, dia sangat menggemari olahraga yang satu itu.

Dan di suatu hari, saat jam pulang sekolah tanpa sengaja aku melihatnya yang sedang latihan basket bersama teman-temannya.

Melihat dia saat mendribble bola, memasukkan bola ke ring, melihat rambutnya yang basah karena keringat. Sungguh dia sangat tampan.

Ada sebersit perasaan aneh di hatiku.

Dan detik itu, aku sadar kalau aku jatuh cinta padanya.

Mataku tak bisa berkedip menatap sosoknya.

Dan tiba-tiba aku merasa pipiku memanas ketika dia menoleh padaku.

Aku menunduk malu dan berjalan pergi.

Tapi tiba-tiba langkahku terhenti karena dia memanggil-manggil namaku.

Dia berjalan mendekatiku dan mengatakan ingin pulang bersamaku.

Dengan wajah kikuk aku menjawab, “Iya.”

Dia tersenyum.Lalu kami pun berjalan pelan menuju rumah kami.

Masih jelas di memoriku wajahnya yang berseri-seri sambil sesekali menoleh kearahku—membuatku salah tingkah.

Bertahun-tahun sudah aku memedam rasa padanya.

Setelah lulus SMP, kami melanjutkan ke SMA yang sama.

Dia juga ikut club basket, sama seperti waktu kami SMP dulu.

Dia semakin populer.

Tingginya yang semampai, wajahnya yang tampan, dan suara bassnya membuat setiap perempuan pasti akan tergila-gila padanya—termasuk aku.

Dia semakin sibuk dengan kegiatan clubnya, kami semakin jarang bertemu.

Dan kudengar dia semakin dekat dengan manager club mereka yang bernama Jung Jessica.

Aku mencoba menepis pikiran-pikiran aneh yang memenuhi benakku.

Memang wajar bukan kalau dia dekat dengan manager mereka? Dia ‘kan kapten tim.

Itulah yang sering kukatan pada diriku sendiri kala aku mendengar gossip tentang kedekatan mereka.

Tapi, di suatu hari yang tak terduga, aku melihat Kris berpelukan dengan Jessica di taman belakang sekolah. Setetes air bening mengalir dari sudut mataku melihat pemandangan itu.

Sedetik kemudian aku berlari meninggalkan tempat itu. Meninggalkan cintaku yang bertepuk sebelah tangan.

Beberapa hari kemudian, aku mencoba menjaga jarak dengannya.

Dia sering mengajakku pulang bersama kalau dia sedang tidak ada latihan tapi, sering kutolak dengan alasan bahwa aku harus belajar di perpustakaan.

Lama-kelamaan, Kris mulai  sadar kalau aku mencoba untuk menjauhinya.

Dan akupun tidak selamanya harus membohonginya.

“Belakangan ini kau bersikap aneh, Yuri.” Kata Kris sewaktu aku beralasan lagi agar tidak pulang bersamanya.

Aku tersenyum—mencoba untuk tidak terlihat gugup dihadapannya.

“Aneh bagaimana.?”

“Jangan pura-pura tidak tahu, Yuri. Kau mencoba untuk menghindariku. Ada apa sebenarnya denganmu?”

Aku mengibaskan sebelah tanganku didepan wajahnya.

“Jangan bicara yang aneh-aneh Kris.” Kataku sambil berlalu dihadapannya.

Tapi tiba-tiba dia menahan pergelangan tanganku. Dia menatapku tajam.

“Jangan pergi. Pembicaraan kita belum selesai.” Ucapnya dengan nada dingin penuh penekanan.

Aku balas menatapnya. ”Pembicaraan apa? Jangan mengada-ngada Kris. Lepaskan tanganku. Aku buru-buru.”

Kris mencengkram tanganku lebih kuat.

“Aw. Kris… sakit.” Aku meringis  sambil mencoba melepaskan tanganku dari cengkramannya.

Tapi sia-sia. Cengkramannya kuat sekali. Tenagaku terbuang percuma.

Mataku mulai berkaca-kaca. Kris  tertegun menatapku.

Tak menunggu lama lagi ,aku menepis kasar tangannya. Detik itu juga airmataku langsung mengalir dari sudut mataku tanpa kuperintah. ”Kau… aku membencimu.!” Setelah berkata begitu aku langsung berlari meninggalkannya. Tidak menggubris teriakannya yang terus memanggil namaku.

Sudah sebulan berlalu setelah hari itu. Baik Kris maupun aku sudah jarang saling sapa. Tiap kali bertemu kami saling membuang muka. Seperti tidak saling mengenal.

Ada sebersit perasaan sedih di hatiku. Tapi mungkin ini lebih baik untuk kami berdua. Ya, lebih baik.

Setelah kejadian itu juga, Kris nampak makin dekat dengan manager mereka, Jessica.

Tak apa, aku iklas. Kris dan Jessica… semoga kalian bahagia.

***

Hari ini hari kelulusan kami. Tak terasa 3 tahun sudah aku mengenyam pendidikan di SMA ini. Setelah berpisah dengan para guru, dan teman-temanku, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku tak sanggup berlama-lama di sekolah, tak sanggup melihat Kris.

Aku duduk di ayunan yang tergantung di pohon maple yang berada di halaman belakang rumahku. Dulu sewaktu kecil, aku sering mengahabiskan waktuku disini, bermain bersama Kris.

Sekarang sudah musim gugur. Daun pohon maple berguguran jatuh di tanah. Ini adalah pemandangan kesukaanku setiap kali sudah memasuki musim gugur.

Aku tersenyum.

Tapi tiba-tiba ada dua buah tangan yang menutup penglihatanku.

“Tebak ini siapa.?” Ujar sang pemilik tangan.

“Pasti Kris.” Kataku pelan. Ya aku tahu ini pasti ulah Kris. Karena sejak kecil, dia selalu melakukan hal ini padaku.

Kris menjauhi tangannya dari mataku dan berjalan kedepanku.

“Tepat.!” Ucapnya dengan nada berat khasnya sembari tersenyum lebar ke arahku.

Aku menunduk. Tidak membalas senyumannya. Aku tak siap bertemu dengannya dan juga aku heran kenapa Kris bisa ada di sini.

Kris berjongkok di hadapanku dan meraih kedua tanganku.

“Aku minta maaf sudah membuatmu menangis hari itu.”  Ucapnya pelan dan lembut.

Aku terdiam. Hanya bisa menatap manik matanya yang berwarna cokelat tua.

“Aku tahu kamu marah karena aku dekat dengan manager clubku bukan.?”

Mataku terbelalak. Sial dari mana dia tahu?

Dia tersenyum simpul. Seakan tahu apa yang sedang kupikirkan.

“Kita sudah berteman kurang lebih 10 tahun, Yuri. Aku tahu semua tentang dirimu. Tingkah lakumu, sifatmu, kesukaanmu, semuanya aku tahu.”

Kris kemudian berdiri sambil menarik tanganku. Menyuruhku untuk berdiri juga.

“I Love everything about you… your personality, your sassy attitude and your beautiful face. I Love You, Yuri.” Ujar Kris menatap manik mataku lekat-lekat.

Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat sekarang. Mulutku terbungkam oleh pernyataannya.

“Do you love me too.?” Sambungnya lagi.

Mataku berkaca-kaca menatapnya yang masih tersenyum. Dengan suara pelan, aku menjawab,

”Yes. I do.”

Kris tersenyum kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

***

Aku tersenyum menikmati kejadian demi kejadian yang kualami di masa lalu.

Sudah 3 tahun berlalu sejak aku resmi menjadi pacarnya Kris.

Dan ini adalah hari besarku di mana aku dan Kris resmi menjadi…

Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap.

Sepertinya ada dua buah tangan yang menutupi penglihatanku.

Aku tersenyum. Menikmati kejadian ini lagi.

Serasa De Javu.

“Tebak ini siapa.?” Suara berat yang sudah sangat kuhapal terdengar di belakang telingaku.

“Si jelek Kris.” Kataku dengan nada mengejek. Aku yakin ekspresinya saat ini pasti sangat lucu. Dia pasti cemberut mendengar jawabanku barusan.

Kris menjauhkan tangannya dan kemudian berjongkok di hadapanku—seperti tiga tahun lalu.

Tapi, kali ini beda, dia terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna biru gelap yang ia kenakan.

“Kau ingat tidak? Di halaman belakang ini, tiga tahun lalu seusai acara kelulusan di sekolah aku menembakmu?”

“Tentu saja.”

Mana mungkin aku lupa ‘kan?baru saja aku mengenang masa-masa itu lalu kau muncul.

Ayunan ini juga pohon ini adalah tempat yang tak bisa kulupakan.

Kris mengusap kepalaku. Menarik tanganku kemudian berdiri.

Dia menggengam jemariku dengan erat.

“Ayo kembali. Tidak bagus membuat para tamu menunggu. Ini pesta pertunangan kita. Aneh kalau pemilik pestanya tidak ada di pesta.” Katanya lalu mengecup bibirku sekilas.

Aku tersenyum untuk kesekian kalinya. Sambil memeluk lengan kekarnya aku berkata, ”Ayo.”

Angin berhembus pelan. Menerbangkan helai demi helai dedaunan.

Musim gugur yang indah. Musim di mana ketika kau dan aku menjadi kita.

|FIN|

Author’s Note:

Gimana?

Jelek? Ancur? Amburadul?

Haha maaf kalo kurang memuaskan.

Oya, fic ini aku edit dikit, kalo kalian baca fic ini di blogku pasti kalian tau bagian mana yang aku edit, hehe

kalau ada typo, aku cuma bisa bilang maaf x(

At last, don’t forget to leave a comment.

Regards,

Annzi.

26 responses to “[Oneshoot] Autumn Love

  1. Bagus kok eonni, nanti terus bikin ff krisyul ya, dg length lebih panjang lagibdan lebih complicated lagi heheee new reader btw ^^ author jjang!

  2. Bagus kok eonni, nanti terus bikin ff krisyul ya, dg length lebih panjang lagi dan dg cerita yg lebih complicated lagi heheee new reader btw ^^ author jjang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s