[Oneshoot] First Love

req-first-love-soohjin

Author : Kwon Soo Hjin

Main Cast :

Kwon Yuri | Xi Luhan

Other Cast : You can find in this story

Rating :

General

Gerne :

Romance, Sad, Friendship

Lenght :

Oneshoot

Poster by

High shool Graphic

~~~**~~~

Cinta itu..

Kata kata itu, akan terus terngiang dalam otakku. Sebuah kalimat ambigu yang sangat sulit dijelaskan dengan kata kata. Hanya perasaan yang bisa memahaminya.

Temanku bilang, cinta itu seperti salah satu Hukum newton. Tak akan bergerak, jika kau tak menggerakkannya. Benar bukan ?

Mungkin. Jika kau membaca cerita ini, kau akan teringat pada seseorang. Sosok yang kau cintai. Sosok yang kau rindukan. Atau mungkin sosok cinta pertamamu ?

Cinta pertama ya ?

Entahlah, jika aku mendengar kata kata itu. Otakku kini tengah memikirkan seseorang. Sosok cinta pertamaku. Sosok yang sampai sekarang masih kucintai, masih menjadi pemilik hati kecilku. Sosok yang tak pernah kutemui selama 3 tahun. Cukup lama bukan ? Tapi, aku masih belum bisa melupakannya.

Oh ya, percayakah kau ? Pada sebuah kalimat indah yang tak asing terdengar bahwa cinta pertama tak akan pernah mati. Dan itulah yang kurasakan. Apa kau juga merasakannya ?

Baiklah, aku ingin menceritakan sebuah kisah. Mungkin akan terdengar cukup aneh. Tapi, ini adalah kisah kisah dari beberapa kisah yang masih kuingat. Kisah yang menceritakan tentang dirinya dan diriku, tepat 3 tahun yang lalu.

Saat itu,

Gadis berperawakan tinggi yang tergila gila dengan seorang namja yang kucintai, sebut saja namja itu Luhan dan panggil gadis itu Seohyun. Dia menulis sebuah kalimat yang cukup indah menurutku. Menempelkannya diatas meja yang dia duduki kemudian aku membacanya.

Cinta, tak hanya diungkapkan dengan kata kata. Tapi cinta, juga bisa diungkapkan dengan tingkah laku. Kenapa kau tak pernah jujur, jika kau mencintai gadis itu ?

Indah bukan ?

Entahlah, aku mengingat semua detail yang dia tulis. Bagaimana tidak ? kalimat itu dipertujukan padaku dan sosok Luhan.

Setelah aku membaca kalimat itu, dia nampak menatapku dengan tatapan yang bisa dibilang cukup sinis. Jujur saja, aku adalah gadis yang pendiam saat itu. Aku bukan Kwon Yuri yang cerewet seperti sekarang. Aku hanyalah gadis pendiam yang memiliki 3 orang sahabat, Yoona, Tiffany dan Sunny.

Baiklah, saat itu dia mengajakku untuk mengobrol berdua. Aku tak merasa ada yang aneh dengannya, karena dia termasuk gadis yang cukup dekat denganku. Kami berjalan dipojok bangunan sekolah saat itu. Sekolahku memiliki dua lantai, dan kelasku berada dilantai dua.

Aku hanya terdiam. Memandang teman teman laki laki disekolahku yang nampak sibuk bermain bola. Walaupun begitu, kedua mataku hanya tertuju pada salah satu namja, Luhan. Mungkin merasa diperhatikan, dia mendongakkan kepalanya keatas lalu tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku membalas senyumannya, tanpa membalas lambaian tangannya lalu memutar kepalaku dan mendapati sosok Seohyun tengah terdiam, menatapku dengan sayu.

Ada apa ?

Apa yang terjadi dengan gadis itu ?

“Nampaknya, Luhan menyukaimu” Gumannya singkat. Menjawab semua pertanyaan yang sempat terlintas diotakku, beberapa detik yang lalu. Aku terdiam. Menatap gadis itu dengan tatapan bingung sekaligus aneh. Apa yang dia bicarakan ?

“Yuri, Apa kau menyukainya ?” Pertanyaan itu sukses membuat otakku tak dapat bekerja. Aku tak dapat menjawabnya, ada hal aneh yang mendorong diriku untuk tetap diam. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Menatap sosok namja yang lagi lagi tersenyum padaku. Namja itu berbeda.

“A..aku aku tidak menyukainya. Bukankah dia sudah menyukai gadis lain ?” Elakku. Seohyun nampak menggelengkan kepalanya pelan. Kedua tangannya menyentuh bahuku, mengenggamnya erat lalu memasang seutas senyuman palsu diwajahnya.

“Dia mencintaimu”

Sungguh !

Aku tak dapat memikirkannya. Bagaimana bisa dia berfikir Luhan mencintaiku ? Bahkan terlihat begitu jelas jika dia menyukai gadis lain. Lagipula, akan terlihat aneh jika dia mencintaiku. Tentu saja, sosok namja yang populer mencintai gadis cupu sepertiku ? Hey ! Namja bodoh mana yang akan melakukan hal itu ? Sama saja dia akan menjatuhkan harga dirinya didepan fans fansnya  bukan ?

Dan,

Sejak saat itulah aku selalu memikirkannya. Selalu membayangkan wajahnya saat tersenyum. Bagaimana sebuah garis terbentuk dibawah matanya ketika dia tertawa. Gigi giginya yang kecil dan berantakan. Saat dia tengah berjalan, dia sangat mirip dengan kakekku. Aku memikirkan semua tentang dirinya, tentang kita berdua.

Aneh memang. Saat aku baru menyadari semua kebaikannya kepadaku. Saat dia dengan sabar mengajariku sebuah mata pelajaran yang paling kubenci, bahkan sampai sekarang pun aku masih membencinya, Pelajaran matematika. Saat dia mencoba menghiburku jika aku tengah menangis atau tak memiliki mood.

Karena dia,

Hari hariku menjadi lebih berwarna. Aku lebih bersemangat untuk datang kesekolah. Apa lagi sejak kejadian itu, Aku sangat malu jika aku mengingatnya. Mungkin Luhan sudah melupakannya. Tapi, kenangan itulah yang membuatku terus bertahan sampai saat ini. Setitik kenangan manis yang membuatku tetap mencintai namja tampan itu.

Saat itu, kelas ku tengah pelajaran IPA. Songsaenim memberi kita tugas untuk membuat sebuah lampu sederhana yang terbuat dari baterai dan sebuah bohlam kecil. Memang mudah membuatnya, bahkan saat itu percobaan yang kubuat sudah berhasil. Tapi, saat songsaenim memeriksa percobaan milikku, lampu itu tak dapat menyala.

Aku memang terancam tak mendapatkan nilai tugas kala itu. Dan aku menangis. Tentu saja aku menangis, bayangkan saja kau sudah membuat tugas itu dengan susah payah lalu saat tugas itu akan dinilai tiba tiba saja rusak. Itu sama sekali tak adil bagiku.

“Baekhyun-ah Ottoke ?” Gumanku pelan pada Baekhyun, sosok yang menjadi teman sebangku ku kala itu. Namja itu tak bergeming. Hanya mencoba memutar kabelnya berusaha membuat listrik dari baterai mengalir dan membuat lampu itu menyala.

“Tidak bisa menyala” Guman namja itu nampak frustasi. Aku terdiam. Entah kenapa aku menangis.

“Waeyo ?” Guman Luhan tiba tiba. Dia berdiri disamping Baekhyun. Namja itu menatapku dengan seksama.

“Lampunya tak dapat menyala dan dia menangis. Bisakah kau membantunya ?” Ujar Baekhyun. Andai saja aku tak menangis saat itu. Mungkin aku bisa memukulnya berkali kali sehingga membuatnya menyesal pernah mengucapkan kalimat itu. Ah, aku tak ingin merepotkan Luhan. Dia sudah banyak membantuku tapi aku benar benar butuh bantuannya saat ini. Aku tak tau harus berbuat seperti apa lagi.

Luhan nampak meninggalkanku dan Baekhyun pergi. Huh ! rupanya dia tak ingin membantuku. Aku hanya bisa menghela nafas berat. Kedua mataku bergerak mengikuti sosoknya, dia nampak berjalan dari bangku kebangku. Entah apa yang dia bicarakan dengan pemilik bangku itu. Tapi senyumannya nampak mengembang saat dia berhenti dibangku yang diduduki oleh Suho dan Tiffany. Aku menyergit, mencoba menebak apa yang dia lakukan sekarang. Walaupun aku tak kunjung menemukan jawabannya. Luhan pergi meninggalkan bangku Suho dan Tiffany dengan sebuah lampu senter ditangan kirinya. Namja itu tersenyum ramah lalu menyodorkan lampu itu kepadaku.

“Kau gunakan saja lampu ini, Sebentar lagi Baekhyun selesai menjelaskan cara membuat lampu ini pada Songsaenim. Dan aku akan memperbaiki lampu milikmu. Jika kau ingin aku memperbaikinya sekarang, kau tak akan maju kedepan. Jadi, cepat maju dan aku akan memperbaiki lampu milikmu. Kau mengerti maksudku bukan ?” Tanyanya. Aku terdiam. Menganggukkan kepalaku singkat dan menatapnya dengan sebuah tatapan yang mengucapkan banyak terima kasih. Aku berhutang budi padamu, Luhan.

“Tapi..”

“Ah, cepat maju. Aku akan memperbaikinya !” Ujarnya lagi. Aku mengangguk, dan berjalan menghampiri songsaenim.

Luhan, sifatmu itulah yang membuatku menyukaimu. Bagiku, kau seperti seorang pangeran berkuda putih yang menghampiriku saat aku membeku ditengah tengah badai salju. Kau sangat baik padaku.

Sejak saat itu, aku mulai mencintainya. Menurutku, perasaanku ini terlalu mendadak dan terlalu berat. Ck. Mencintai Luhan itu seperti seorang gadis miskin yang mencintai seorang pangeran, sangat tak mungkin dalam kehidupan nyata. Tapi, hal itu bisa menjadi kenyataan dalam sebuah dongeng.

Aku tak mungkin mendapatkannya.

Hari hari berlalu dengan cepat. Mungkin karena aku terlalu senang sehingga tanpa terasa kami harus berpisah. Saat itu, aku hanya mampu memandang punggungnya dari kejauhan. Aku sangat malu jika harus menyapanya, Untuk apa aku malu ? bukankah sudah 6 tahun aku mengenalnya ? tapi itu bukan alasan untuk aku menjadi malu bukan ? Mungkin dia tak tau jika aku sedang malu, atau dia juga pasti bertanya padaku, ‘apa yang terjadi padamu ? kau nampak aneh sekali’.

Saat perpisahan. Dia nampak tampan. Dengan menggunakan kemeja berwarna berwarna putih dan jas berwarna hitam. Rambutnya yang berwarna hitam kemerahan terlihat begitu bagus dimataku. Hari itu, dia akan bermain gitar. Aku sangat meragukan kemampuannya, tapi dia cukup pintar memainkannya.

Aku tak bisa jika seperti ini.

Setiap hari, aku terbiasa melihat wajahnya. Mendengar suaranya saat dia bercerita kepadaku. Mendengarkan lelucon yang dia lontarkan. Aku tak bisa jauh darinya. Aku, aku tak memiliki sedikit semangat pun jika dia tak ada disini, bersamaku.

Saat itu. Luhan sama sekali tak memandangku. Tak mengucapkan sebuah kalimat perpisahan dari mulutnya. Tak tersenyum lagi kepadaku. Terakhir yang aku ingat, saat dia berkata ‘aku tak bisa membayangkan jika aku berpisah denganmu’. Aku hanya terdiam. Aku ? Kenapa harus aku ? tidak dengan teman teman kita yang lain ? Apakah hanya aku seorang ? Apa maksudnya ?

Saat dia juga berkata, jika suatu saat nanti aku akan menjadi seorang dokter dia akan menjadi salah satu orang yang akan kuobati. Saat dia mengatakan kalau dia menyukai rambut hitam nan lurus milikku. Dan saat dia berkata dia akan menjadi temanku, sekalipun kita akan berpisah esok hari.

Kenapa dia mengatakan semua itu ?

Bahkan sampai saat ini, aku belum bisa mengatakannya. Aku tak bisa berkata jika aku mencintainya. Mencintainya sejak 8 tahun yang lalu. Mencintainya saat melihatnya tersenyum. Mencintainya karena dia begitu baik padaku, dan aku tak tau kenapa sampai sekarang aku tak bisa berhenti mencintainya.

Perasaanku masih sama.

Aku tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya padaku. Aku tahu kita akan benar benar berpisah saat ini. Untuk 3 tahun. Untuk 6 tahun bahkan bisa untuk selamanya. Aku hanya bisa menunggu takdir mempertemukan kami kembali, bukan untuk menjadi teman ataupun sahabat. Tapi, untuk hidup bersama selamanya.

~~~**~~~

END

Huwo😉

Ini FF Author sejak jaman dahulu kala. Author nulis ini waktu kelas 7 SMP Yah, sebenernya FF ini itu sebuah cerita real, kkkk~ *Ok jangan bahas itu

Maaf kalau ceritanya aneh dan sulit untuk dimengerti. Author aja bingung #Plak

Ok, jangan Lupa komentar yaa😀

Gumawo

27 responses to “[Oneshoot] First Love

  1. Wahh ,, emng berbakat menulis dr dulu yaa thor ??🙂
    Hmm , bt story’x tuhh bkin prasaan saia nge-gantung . *pletakk~kkk
    Kllo bisa bkin sequel’x ne ?
    Ingattlah thor ! Saia sllu suka & mnunggu krya”mu :*

  2. ayo buat lagi thor yang happy ending*dijitak author
    oh ya adik author, aku memutuskan menjadi pecinta ff author*gak nanya

  3. haa,,,
    abis baca ff eonni buat aku membaik,,, maksh eonni , ff eonni bagus + buat aku nangis,
    alam kenal, seemoga ada sequelnya,

    owh ea btw ff I AM WOLFnya kapan dilanjutin, uda gag sbar eonni

    • Woah >< Kamu lagi sakit kah ? ato lagi Unmood ?
      ckck~ Syukurlah kalau kmu suka😀
      Sequelnya, mungkin aku buatin yaa😀

      I'm Wolf Otw yaa, doakan sabtu kalo engga minggu udah bisa dipost ok😀
      Yah, Gumawo karna kamu udah sempet baca😀

  4. Kok rasanya agak gimana gitu ya, ada nyesek2nya gitu /efek abis di tinggal para gebetan lulus/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s