If… [YulHan Version]

if yh vers

Title : If…

Author: Annzi Jung

Main Cast: Xi Luhan, Kwon Yuri

Genre : Sad, AU

Rated : Teens

Disclaimer : Fic ini murni milik saya. Para tokoh murni milik orang-tua dan managemen mereka. Dan Pernah dipost di blog pribadi saya dengan pairing yang berbeda.

Summary : Dia menderita penyakit jantung dan sudah sangat parah sudah mencapai stadium empat // Aku ingin menghabiskan 15 menit waktuku bersamamu Luhan, bolehkah kau membawaku ke taman belakang rumah sakit? // Jika kau mengantuk,kau boleh bersandar dibahuku Yuri.

***

 —31 Oktober, 2012. 12.00 p.m

Seorang pemuda berjalan pelan menyusuri koridor di sebuah rumah sakit di kota Seoul sambil membawa sekantong tas plastik berisi buah-buahan segar. Pemuda itu melewati beberapa kamar dan akhirnya berhenti di sebuah kamar bernomor 31. Perlahan dibukanya pintu kamar tersebut. Dibalik pintu, terlihat seorang gadis terbaring lemah dengan infus yang tertancap ditangannya. Pemuda itu tersenyum melihat sang gadis yang tengah terlelap. Setelah menutup pintu kamar tersebut, pemuda itu berjalan pelan menghampiri sang gadis. Setelah meletakkan tas plastik-yang sedari tadi ia bawa- ke meja kecil disamping ranjang, pemuda itu kemudian duduk di kursi tepat di depan meja. Sang pemuda tersenyum mengamati wajah cantik yang tengah tidur di depannya. Tangannya kemudian terangkat untuk mengelus rambut sang gadis. Kemudian dikecupnya kening gadis itu. ”Kau harus kuat, kau harus berjuang Kwon Yuri aku akan selalu berada disisimu menyemangatimu, menemanimu” gumam pemuda itu sambil tetap mengelus rambut gadis yang bernama Yuri itu.

Kwon Yuri, gadis berusia 22 tahun sudah dua minggu ini dirawat di rumah sakit. Dokter belum menjelaskan penyakit apa yang sedang dideritanya.Sehari-hari dia selalu ditemani oleh kekasihnya yang bernama Xi Luhan yang selalu datang menjenguknya. Luhan juga sering menggantikan tugas ibunya Yuri untuk menjaga Yuri selama di rumah sakit.

Perlahan, Yuri membuka kedua kelopak matanya, ditatapnya wajah kekasihnya yang sedari tadi terus ternseyum mengamatinya .”Sudah bangun?” Tanya Luhan masih dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Bibir pucat Yuri mengulas senyuman. ”Aku membawakanmu buah-buahan, kau mau makan?” Tanya Luhan lagi yang dijawab oleh Yuri dengan anggukan.

Luhan lalu mengambil buah apel dari dalam kantong plastik, mengupasnya lalu memotong kecil-kecil—menyerupai dadu.

“Sini, aku suapi. Buka mulutnya.”

Yuri membuka mulutnya dan mulai mengunyah potongan apel yang disuapi Luhan.

“Bagaimana rasanya?manis?”

Yuri mengangguk kemudian tersenyum. ”Terima kasih, Luhan.”

***

Luhan merebahkan tubuhnya di kasur empuk kamarnya. Luhan menghela napas berat. Pikirannya masih tertuju dengan kata-kata dokter di rumah sakit tadi.

Sore itu, Dokter Lee-dokter yang menangani Yuri- memanggilnya untuk membicarakan tentang penyakit Yuri. Karena waktu itu ibu Yuri sedang pulang ke rumah,  jadi Luhanlah yang menggantikan.

“Kalian terlambat membawanya ke rumah sakit. Dia menderita penyakit jantung dan sudah sangat parah sudah mencapai stadium empat. Kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, untuk donor jantung tidak mungkin saat ini belum ada pendonor dan bukan cuma itu kalau jantung sang pendonor tidak cocok untuk tubuh Yuri, efeknya sangat fatal, Yuri bisa meninggal. Dan mungkin, menurut diagnosaku sisa hidup Yuri tidak akan lama lagi.”

Luhan meremas rambutnya-frustasi. Sisa hidup Yuri tidak akan lama, Yuri akan pergi, aku tidak mau berpisah dengannya! Aku tidak mau! Ya Tuhan, dunia ini sungguh kejam. Jika, jantungku bisa kuberikan padanya, jika aku bisa menukar posisiku dengannya. Sungguh aku rela. Aku tidak ingin dia mengalami kesakitan. Aku tidak ingin melihat Yuri meneteskan air matanya. Aku sangat benci melihat Yuri menangis.

***

8 November 2012, 15.00 p.m

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Luhan ketika melihat Yuri sedang membaca buku diranjangnya.

Yuri menutup buku yang dibacanya kemudian tersenyum. ”Baik.”

Luhan balas tersenyum, sebisa mungkin dia tidak ingin terlihat sedih dihadapan Yuri. ”Maaf aku baru menjengukmu sekarang, aku sibuk kuliah banyak tugas yang harus kukerjakan.”

“Tidak apa-apa.”

Luhan kemudian duduk di kursi di sebelah ranjang Yuri. ”Kau… kelihatan lebih kurus.” Ujar pria berambut blonde tersebut.

Ya Yuri semakin kurus karena penyakit yang menggerogotinya. Kondisinya makin parah.

Mendengar itu, sontak Yuri mengamati tubuhnya. ”Tentu saja aku kan sedang sakit.” Ucapnya sambil tersenyum hambar.

Untuk beberapa saat, keheningan menghinggapi ruangan tersebut.

“Luhan? Kau kenapa.?” Tanya Yuri sambil memegang tangan Luhan.”Kau menghayal? Apa yang kau pikirkan?”

Luhan tersadar dari lamunannya .Kemudian tersenyum tipis. Tangannya yang lain terangkat memegang pipi kekasihnya itu. ”Tidak. Tidak apa-apa.”

Yuri menatap Luhan tepat dimanik mata. Mencari jawaban apakah kekasihnya itu jujur atau berbohong.

“Tidak usah berpura-pura Luhan, Aku tau kau sedih. Sedih karena penyakitku ‘kan? Sedih karena aku menderita penyakit jantung stadium empat ‘kan?” Tanya Yuri. Suaranya terdengar sedih.

Luhan kaget mendengar apa yang keluar dari mulut gadis itu, matanya melebar. Ia menjauhkan tangannya dari pipi Yuri.

“Yuri…”

“Tidak usah khawatir Luhan,  jangan sedih. Walaupun kecil atau bahkan hampir tidak ada. Aku selalu percaya akan ada kemungkinan untuk aku bisa sembuh. Aku percaya itu. Kau juga percaya ‘kan.?” Tanya Yuri dengan mata berkaca-kaca kedua tangannya menggenggam erat tangan Luhan.

Luhan menunduk, memandang tangannya yang digenggam oleh Yuri. Kemudian ia mendongak menatap wajah pucat kekasihnya.

“Iya. Aku tidak akan sedih. Aku percaya kau bisa sembuh. Kau pasti sembuh”

Lalu dengan cepat Yuri memeluk tubuh Luhan. Menangis di dada bidang milik kekasihnya.

Luhan membalas pelukan Yuri dengan erat. Ya Tuhan, sungguh dia benci melihat Yuri menangis.

“Kau… hikz… harus berjanji. Kau… tidak akan sedih… dan… tidak akan menangis…” Ucap Yuri disela-sela tangisannya.

Luhan mengelus pelan rambut Yuri. ”Aku janji.”

27 November 2012. 14:55 p.m

Xi Luhan berlari seperti dikejar setan disepanjang koridor rumah sakit. Tak dihiraukannya tatapan-tapapan aneh milik orang yang melihatnya berlari. Hanya 1 nama yang ada dipikirannya saat ini.

Ya… Yuri.!

Ketika mata kuliahnya selesai, ia mendapat pesan dari ibunya Yuri yang mengatakan kalau kondisi Yuri membaik. Betapa terkejutnya Luhan mendengar berita itu.

BRAK!

Luhan membuka kasar pintu kamar yang ditempati Yuri.

“Yuri.!” Teriaknya.

“Minho… Jangan berteriak seperti itu. Ini di rumah sakit.” Kata Nyonya Kwon menghampiri Luhan dan menepuk bahu pria itu pelan.

“Yuri dimana.?”

“Ish, Kau ini. Dia sedang ke kamar mandi sebentar. Tunggulah.” Kata Nyonya Kwon.

Beberapa menit kemudian, sosok tubuh kurus keluar dari bilik kamar mandi. Yuri berjalan sempoyongan menuju sofa yang diduduki Luhan.

Yuri tersenyum. ”Hai… Luhan.”

Tanpa membalas sapaan kekasihnya, Luhan langsung memeluk tubuh kurus gadis itu.

“Kau membaik. Ini pasti keajaiban. Terima kasih Tuhan.” Ucap Minho ditelinga Yuri.

Yuri hanya tersenyum mendengar apa yang pria itu lontarkan. ”Ya. Ini keajaiban.”

Luhan pun melepaskan pelukannya. Kemudian berujar lagi, ”Sungguh aku tak percaya ini.”

Lagi-lagi Yuri tersenyum. “Luhan, aku ingin ke suatu tempat. Kau mau  mengantarku?”

Luhan menatap kekasihnya dengan sebelah alis terangkat—heran. ”Baik. Tapi dimana?” tanyanya.

“Tadi, aku sudah menanyakannya ke Dokter Lee, Dokter Lee mengijinkan tapi dia bilang hanya boleh selama lima belas menit. Aku ingin menghabiskan lima belas menit waktuku itu bersamamu Minho, bolehkah kau membawaku ke taman belakang rumah sakit?”

“Taman belakang rumah sakit? Kau yakin?” Tanya Luhan lagi.

Yuri mengangguk bersemangat. ”Tadi suster juga membawakanku kursi roda.J adi kau mau ya mengantarku?”

“Baik untuk pacarku yang manis.”

Taman belakang rumah sakit.

17.00 p.m

“Wah daun-daun berguguran. Ternyata sudah musim gugur ya?” ujar Yuri. Ia seraya menutup matanya dan munghirup udara yang sejuk ditaman itu.

Yuri membuka matanya perlahan. ”Luhan ayo ke bangku itu.” Yuri menunjuk sebuah bangku yang berada di salah satu sudut taman itu.

“Baik.” Luhan berjalan menuju bangku yang ditunjuk Yuri sambil mendorong kursi roda Yuri.

“Taman disini indah. Udaranya juga sejuk. Benarkan Yuri.?” Tanya Luhan sambil menoleh ke arah Yuri yang duduk disebelahnya. Yuri enggan duduk di kursi roda. Gadis itu ingin duduk disebelah pemuda yang dicintainya.

Yuri tersenyum sekilas. ”Iya.”

“Luhan… aku mencintaimu.” Kata Yuri pelan hampir berbisik. Tapi Luhan bisa menangkap apa yang gadis itu katakan.

“Aku juga. Sangat-sangat mencintaimu.”

Pandangan Yuri tiba-tiba buram.”Sudah saatnya.” Gumam gadis itu.

“Luhan… Sekarang jam berapa?” Tanya Yuri sambil menggenggam tangan kekasihnya.

Pemuda itu memandang gadis disebelahnya sambil tersenyum kemudian ia melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. ”Jam lima lewat lima belas menit.”

Yuri menggangguk. Kemudian ia memalingkan pandangannya ke depan.Matanya menerawang. ”Sudah tepat lima belas menit ya. Em, Luhan kau pernah berjanji ‘kan? Kau tidak akan menangis?”

Luhan menatap Yuri bingung. ”Apa maksudmu? Iya aku pernah berjanji begitu.”

Tiba-tiba perasaan Luhan menjadi tidak enak.

Bibir pucat Yuri mengulas senyuman.”Baguslah”.

“Luhan.” Kata gadis itu lagi.

“Ya?”

“Aku mengantuk. Aku ingin tidur.” Ucap Yuri lemah.

“Jika kau mengantuk, kau boleh bersandar dibahuku Yuri. Tidurlah.” Luhan berusaha menahan airmatanya.

Yuri pun menyandarkan kepalanya di bahu milik kekasihnya. Sebelum matanya benar-benar tertutup Yuri berkata, ”Selamat tinggal… Luhan.”

Mata Yuri kini tertutup sempurna. Namun senyuman diwajah cantiknya tak kunjung menghilang.

Luhan menggoncangkan tubuh Yuri. Satu daun dari pohon maple yang berdiri kokoh di sebelah kanan Luhan terjatuh dan ditiup angin.

Yuri tetap bergeming.

Air mata Luhan tak terbendung lagi, pemuda itu menangis sejadi-jadinya .Gadis yang dicintainya pergi. Pergi meninggalkannya. Untuk selamanya dan tak akan pernah kembali.

Yuri pergi ke tempat yang tak bisa dijangkau Luhan.

“Yuri… Aku mencintaimu…” Ujar Luhan memeluk tubuh Yuri.

***

Luhan menatap nanar nisan yang berada di depannya.

Nisan yang bertuliskan “RIP Kwon Yuri”

“Yuri… dimanapun kau berada aku akan tetap mencintaimu.” Gumam pemuda itu.

Luhan kemudian meletakkan sebuket bunga krisan didepan nisan Yuri. Memandang foto Yuri yang tersenyum manis di nisan tersebut.

“Kau tau, lima belas menit terakhir kita adalah hal yang paling indah seumur hidupku. Aku takkan melupakannya. Aku mencintaimu.” Setelah berkata begituLuhan bangkit berdiri dan perlahan berjalan meninggalkan makam Yuri.

|FIN|

Author’s Note:

Sumpah -_- ini ff ancur banget.

Tapi, jangan lupa ninggalin komentar ya…

15 responses to “If… [YulHan Version]

  1. hiks hiks hikss….
    nyesekk bngeett bcnyaa…
    Krenn kokkk Thorr..
    Aq.tnggu Ff Yulhan yg lain klo bsa Chapter^^

    #KeepWritting+fighting^^

  2. kenapa miris banget nasib yulhan, kebanyakan sad ending,
    thor, perbanyak ff yulhan ya? aku akan jadi pembaca setia selama bisa internetan..

  3. ffny daebakk!!!cuma ada typonya waktu luhan msk kekamar rawat inapnya yuri.tapi yg penting ffnya keren..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s