[Freelance] T.O.Y [Think Of You]

t(2)

Title

T.O.Y [Think of You]

Author

tantriprtstht

Length

Oneshot

Genre

Sad Romance, Fluff & Physco

Rating

PG-13

Main cast

Sunny (SNSD) | Chen (EXO)

Desclaimer

The story 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator! No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m just newbie.

I never wanted to be here again, as a toy….. I’m frazzle.

SUNNY POV

Toy. Mainan. Puzzle, robot, mobil hingga bonekapun bisa kau sebut mainan jika kau memainkan mereka. Ada yang memainkan dengan penuh perasaan, ada yang tidak. Jika kau sudah bosan, kau bisa saja membuang mainan itu, membiarkan mainanmu membusuk di tempat sampah dan jika mainanmu beruntung, bisa saja mainanmu ditemukan oleh orang lain. Mungkin merawatnya menggantikanmu, mungkin menyumbangkannya ke panti asuhan.

Diriku sekarang terpuruk, duduk di lantai sambil menunggu hari kematianku tiba. Aku seperti mainan yang dibuang, bukan oleh majikanku melainkan pemilikku yang kucintai sebelumnya. Aku dianggap tak berharga, begitukah? Aku ingin pemilikku  mencariku layaknya kehilangan sesuatu yang sangat penting seperti cinta.

Cinta seperti mainan, bagiku yang mengalami ini. Mainanmu yang hilang, bisa kau temukan jika kau mencarinya dengan sungguh-sugguh. Bahkan bisa saja kau menemukan mainanmu secara tidak sengaja. Entah apa itu takdir atau nasib, yang pasti itulah yang membawaku kemari.

Sebenarnya dulu aku dipenuhi cinta. Sungguh, aku tidak berdusta. Setiap detik hatiku dipenuhi oleh kehangatan. Berada di sisi pemilikku membuatku sangat nyaman meski di tengah salju sekalipun. Pemilikku bagaikan baterai yang mengisi mainan agar bergerak. Tapi kini pemilikku sudah mencampakkanku, membiarkanku menangis setiap kali aku melihat bintang di langit.

Suara burung hantu menandakan bahwa sudah malam, mendekati tengah malam. Sudah berapa hari? Entah, mungkin sudah 87 hari. Aku sudah malas menghitung jumlah hari yang aku lalui di tempat sempit ini. Aku tinggal hanya menunggu sampai aku digantung di sebuah tali, atas perintah yang tertinggi.

Bukan Tuhan karena Tuhan tidak mungkin setega ini padaku. Tapi jika seperti tadi, bahwa takdir atau nasib yang menentukan jalan ini, aku akan menerimanya meski ada 0,0001 persen di hatiku yang tidak menerima ini.

Aku sudah tidak punya tujuan hidup. Aku bahkan tidak berani melihat bayanganku sendiri karena saat ini hanya aku yang tersisa. Saat aku datang, ada sekitar 5 orang di ruangan ini. Mereka sama sepertiku, seperti mainan. Satu per satu dipanggil beserta pengikut hitam mereka. Entah mati atau dibebaskan, aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu.

Salah satu dari mereka adalah temanku. Dia dibuang oleh pemiliknya ke sungai karena salah paham. Dia berjanji padaku jika dia bebas, dia ingin merawatku. Dia ingin aku juga bebas, tapi sampai sekarang dia belum datang. Apa dia sudah mati?

Langkah kaki terdengar saking sepinya tempatku berada. Aku tetap menundukkan kepala hingga salah satu penjaga membuka pintu besi, melepas borgol di tangan dan kakiku dan membantuku berdiri.  “Tiba saatnya giliran kau”

Aku hanya mengangguk pelan, tapi begitu melihat cahaya lampu yang sudah lama tidak kulihat, aku sadar bahwa posisiku sedang terancam. Aku tidak bisa melawan karena tanganku di rantai di sabuk penjaga itu. Mainan sepertiku juga pada akhirnya akan dibuang, benarkan?

Penjaga itu membuka suatu pintu yang di dalamnya berisi sepasang suami istri separuh baya dan seorang laki-laki yang terus memperhatikanku sejak aku menginjakkan kaki di ruangan ini. Apakah mereka yang akan menyaksikan kematianku?

“Lee Sunkyu, 25 tahun” ucap penjaga itu mengingatkanku pada nama berharga yang aku miliki. Sejak terkurung, aku bahkan berusaha melupakan namaku sendiri. Ketiga orang itu hanya mengangguk membuat penjaga itu melepas kunci rantai dan meninggalkanku bersama orang yang bahkan namanya saja tidak aku ketahui.

Yang menjadi perhatianku adalah laki-laki yang umurnya tidak jauh dariku. Laki-laki muda mengingatkanku pada pemilikku yang sungguh kejam. Aku mundur selangkah namun laki-laki itu mendekat padaku lalu dengan cepat langsung memelukku.

“Mulai sekarang kau tidak akan sendirian lagi, Sunny”

****************

Why he know my short name? Do I know him?

Aku masih saja tidak percaya bahwa semalam aku tidur sangat lelap. Keluarga ini membawaku ke rumah mereka, memberiku sebuah kamar beserta perabotan ala perempuan dan pagi ini mereka menyuguhkanku sarapan. Sarapan pertama yang layak untukku sebagai mainan yang dibuang dan dipungut kembali.

“Makanlah, Sunny” ucap Nona Kim dengan senyumnya yang ramah.

Semalam sebelum menunjukkanku kamar baruku, mereka mengenalkan diri mereka masing-masing. Tuan Kim dan Nona Kim sangat ramah padaku. Mereka bahkan bilang kalau ingin mengasuhku seperti anakku sendiri. Sedangkan anak mereka Kim Jong Dae, orang pertama yang setelah sekian lama menyebut nama akrabku…. Bahkan aku sendiri tidak berani menyebut nama akrabnya.

“Chen, cepat sarapan!” seru Tuan Kim sambil mengaduk kopinya. Dulu aku sering sekali dipaksa minum kopi oleh penjaga agar aku bekerja tengah malam. Tapi semalam, aku tidak mengangkat batu lagi. Seperti seluruh bebanku lepas begitu tiba di rumah yang dilengkapi perapian ini. “Sunny, jangan sungkan. Minumlah tehmu”

Aku memandangi cangkir berhias bunga yang sudah berisi green tea di dalamnya. Aku hanya meneguk green tea itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku bahkan tidak bicara apapun pada mereka sejak memasuki mobil hitam yang membawaku kemari. Bukannya tidak ingin, tapi tidak bisa.

“Baiklah, appa berangkat kekantor dulu” ujar Tuan Kim sambil menenteng tas kerjanya. Aku hanya mengangguk pelan, lagi-lagi aku tidak bisa mengucapkan salam yang ringan.

“Hati-hati ya!” seru Chen lalu meletakkan sepiring sandwich di depanku. “Makanlah, kau pasti lapar, iya kan Sunny?”

Aku mengangguk pelan lalu melahap sandwich yang segar itu dengan cepat. Chen menunjukkan ekspresi kagum seperti mengapa aku bisa menghabiskan sandwich secepat itu. Jujur saja, bahkan sandwich yang bagian bawahnya gosongpun tidak masalah untukku. Sandwich ini seperti makanan terenak yang pernah aku makan.

“Biar kutebak, apa sandwich makanan favoritmu?” tanya Chen lalu aku mengangguk. “Berarti selera kita sama, aku juga menyukai sandwich. Apalagi yang isi tuna, enak banget….”

“Chen, setelah ini bantu eomma membersihkan rumah. Malu kan, ada Sunny?” sahut Nona Kim lalu meletakkan buah-buahan di tengah-tengah meja makan.

“Membersihkan rumah? Aish, aku malas sekali. Aku mau download game bagus…..” lanjut Chen lalu Nona Kim menggeleng. Chen memperhatikan piringku yang sudah kosong. “Mau sekalian aku bawakan ke dapur?”

Aku terdiam. Mengapa keluarga ini terutama laki-laki ini sangat perhatian padaku? “Chen, bawakan saja untuk Sunny. Dia masih trauma pada sikap orang lain” ujar Nona Kim lalu meneguk jus apelnya.

Chen mengangguk lalu melaksanakan perintah Nona Kim tanpa protes. Jujur saja, aku merinding. Suasana ini begitu baru bagiku, kehangatan yang lain dari sebelumnya namun sungguh nikmat rasanya.

“Sunny, bibi mau menjemur pakaian dulu. Lakukan apa yang kau suka, ne? Kalau kau butuh sesuatu, katakan saja pada bibi atau Chen” lanjut Nona Kim lalu aku mengangguk. “Chen, kemari sebentar!”

Ne?” Chen dengan santainya menuju Nona Kim. “Ah iya, aku harus membersihkan rumah. Baik, baik, aku mengerti!”

Nona Kim hanya tersenyum melihat tingkah Chen. Membuat hatiku tergerak, seperti ada baterai yang menghidupkanku. “Boleh saya juga membantu?”

Chen menoleh kembali untuk mencari sumber suara, dengan ekspresi terkejutnya  bahkan Nona Kim kalah kaget dengan anak tunggalnya itu. “Tentu saja kau boleh membantu. Chen juga pasti senang jika pekerjaannya lebih ringan!”

Aku memundurkan kursiku lalu berdiri dan berjalan menuju Chen. Aku menundukkan kepala dengan sedikit gemetar. “Mohon bantuanmu!”

Aku tak berani menatap mata Chen, tapi Chen tiba-tiba mengusap kepalaku lalu tertawa kecil membuatku secara cepat melihat bibirnya. “Jangan sungkan, ayo ikut aku. Kita cabut rumput liar”

Chen membawaku ke halaman rumahnya yang luas. Apakah laki-laki ini yang merawat semua bunga ini? Karena begitu melihat keterampilannya merapikan bunga….. Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku. Juga pikiran untuk membantu dia sesuai perkataannya. Aku mencabut rumput liar dengan sangat hati-hati tapi tetap saja tergores.

“Gwechanna? Ah, kalau kau tidak mau mencabut rumput, kau bisa menyapu rumah—“

“Ani, aku baik-baik saja” jawabku memotong ucapannya. Chen menyentuh tanganku lembut lalu memperhatikan dengan saksama. Dialah yang pertama kali menyentuh tanganku setelah aku melihat cahaya mentari lagi.

“Tanganmu halus sekali ya….” Gumam Chen lalu tersenyum. “Tapi sebentar lagi tanganmu akan kasar. Kasar bukan dengan arti buruk tapi menjadi kasar karena kau akan terampil!”

Kim Jong Dae alias Chen. Kau sangat berlawanan dengan pemilikku sebelumnya, yang bahkan memakai seluruh bagian tubuhku untuk kesenangan pribadi. Aku merasa aku tidak akan menjadi mainan Chen. Aku merasa seperti menjadi teman Chen.

Sinar matahari makin terik membuat Nona Kim memberi aku dan Chen ice tea untuk menyegarkan tenggorokan kami. Bukan hanya mencabut rumput, kami juga sudah membersihkan setiap sudut rumah yang berlantai dua ini.

“Tuh kan, selesai lebih cepat?” ujar Nona Kim sambil tersenyum. Chen mengangguk senang. “Oh ya, bagaimana kalau kau mengajak Sunny jalan-jalan?”

“Jalan-jalan?” gumam Chen lalu melirik padaku. “Sunny, apa kau berani keluar dari rumah?”

Pertanyaan yang sungguh sulit untuk dijawab. Bagaimana kalau aku bertemu dengan pemilikku yang dulu, dan dia bisa saja seketika membuat baterai yang menghidupkanku kosong lagi. Tapi senyuman Chen dan Nona Kim membuatku tidak bisa menolak mereka. Hanya jawaban positif yang aku berikan untuk mereka.

*********************

Just one touch, you make me feel amazing as a human….

Dengan topi yang melindungiku dari panasnya matahari, aku dan Chen sudah berjalan keluar dari rumah sekitar 10 menit. Kicauan burung, angin yang berhembus, suara bel sepeda bahkan bunyi klakson mobil membuatku bersyukur bisa bebas.

Aku memperhatikan sekitarku. Restoran fast food, café kecil di pojokan, toko buku yang selalu ramai serta stand ice cream yang digemari anak-anak membuatku teringat akan masa laluku yang gelap. Sepertinya tempat tinggalku yang dulu bersama pemilikku yang sebelumnya tidak jauh dari sini.

Dulu, aku dan pemilikku sebagai pasangan sering menelusuri jalan yang damai ini, bahkan dia menyatakan perasaan padaku di depan air mancur. Aku benar-benar sudah menjadi miliknya, saat itu. Sekarang dia sudah melepaskanku, entah dengan perasaan rela atau sadis, takdir atau nasib lah yang membawaku kembali berjalan di antara suasana ini.

“Ah, Chen!”

Seorang perempuan mendekati aku dan Chen. Dia dengan bangga mengenakan seragam kerjanya. Chen tersenyum pada perempuan itu seperti senang bertemu dengan teman lama. “Sudah lama ya, apa kau sudah tamat kuliah?”

Ne, aku sudah bekerja sekarang. Bagaimana denganmu, Chen? Apa penyakitmu sudah sembuh?” tanya perempuan itu lalu Chen mengangguk. “Arasseo, kalau begitu aku pergi dulu. Semoga kita bisa reuni dengan teman-teman lain dalam waktu dekat ini!”

Chen mengangguk dan melambaikan tangan sampai sosok perempuan itu menghilang dari pandangan kami. “Ada apa, Sunny? Ayo jalan”

Aku mengangguk pelan. Sebenarnya aku ingin menanyakan padanya apa penyakitnya tapi melihat raut wajahnya…. Aku semakin merasa kalau aku tidak boleh bertanya lebih jauh. Mungkin dia bisa sakit hati, mungkin aku bisa sakit hati bahkan hati kami berdua bisa sakit.

Dari sebelah kanan terliat kerumunan membuatku dan Chen penasaran. Kami berdua bergabung dengan banyak orang dan menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih. Orang-orang berusaha memegang dengan erat tangan kekar laki-laki sedangkan sang perempuan hanya menangis ditemani teman-temannya.

“Kau sengajakan, tidak menerima surat panggilan itu?!” seru laki-laki itu dengan nada marah.

“Sungguh, aku tidak melakukannya! Aku bahkan senang jika kau menerima surat panggilan itu!” tetap saja perempuan itu tidak bisa menghentikan tangisannya, karena laki-laki itu terlihat seram untukku dan juga Chen dan semua orang.

“Sekarang impianku hancur! Aku tak peduli padamu lagi! Pergilah jauh, sesukamu saja!” lanjut laki-laki itu lalu melawan pegangang orang-orang dan pergi dari tempat itu.

Mirip. Bahkan sangat persis dengan apa yang aku alami dulu. Jika dugaanku benar, perempuan itu tidak akan bisa kembali ke rumahnya, berkeliaraan di tengah malam dan pada akhirnya dikurung di kurungan yang sama sepertiku. Menyedihkan, tapi itulah takdir atau nasib yang sudah ditentukan.

“Sunny, ayo kita pergi dari sini” ujar Chen pelan lalu aku mengangguk.

Aku tak mau teringat kejadian di masa lampau. Sekarang aku sudah mendapat ganti dari siksaan selama hampir 3 bulan itu, sekarang aku bebas melakukan apa saja, benarkan? Tapi tetap saja aku tidak bisa tersenyum seperti dulu.

*********************

“Kau kan yang memasukkan kameraku ke dalam air?!”

“Aku tidak sengaja melakukannya! Entah siapa yang menyenggol  kamera hingga—“

“Aku tidak ingin mendengar alasan konyolmu lagi, Lee Sunkyu!”

“Tapi dengarkan penejelasanku dulu…”

“Penjelasan, penjelasan! Karena kau, impianku hancur! Kau tahu berapa tahun aku menabung untuk membeli kamera yang sangat aku harta karunkan itu?”

“Aku akan menggantinya, berapapun harganya…..”

“Aku tidak perlu uang atau permintaan maafmu! Katakan saja kalau kau tidak setuju jika aku pergi dari sisimu!”

“Aku justru senang jika kau bahagia! Tolong, dengarkan aku dulu!”

“Sudahlah. Pergi dari hadapanku! Jangan pernah kembali! Sejak awal kau hanya alat untuk memuaskanku saja!”

*************

What about us? What about love? Will you remind me about that?

Hari kedua. Entah bagaimana nasib perempuan kemarin, mungkin saja sekarang tangan dan kakinya sudah diborgol, mendengar suara burung hantu. Apakah dia akan berada di sana lebih dari lamanya aku di sana? 88 hari mungkin?

Aku ingin menyelamatkan perempuan itu, tapi aku tidak tahu namanya bahkan di karantina mana dia menangis. Tidak ada gunanya, tidak ada gunanya.  Datang ke karantina akan membuatku masuk ke dalam lubang kelam.

“Sunny, selamat pagi” sapa Chen begitu aku turun ke lantai 1. Chen sedang menonton TV, Nona Kim sedang mencuci piring. Tuan Kim sepertinya sudah berangkat bekerja. Di meja terdapat sarapan yang lagi-lagi mereka suguhkan untukku. Menunya hari ini beda. Susu caramel, telur dadar dan permen mint. Sungguh kombinasi yang unik.

Begitu aku menghabiskan susu karamelku, Chen duduk di depanku setelah mematikan TV. “Hari ini mau jalan-jalan lagi?”

“Ide bagus! Bagaimana kalau ke bioskop? Kebetulan sekarang ada film bagus…..” sahut Nona Kim sambil tersenyum lalu aku mengangguk.

“Kalau begitu, Sunny mandi duluan saja. Setelah itu kita baru berangkat……” sahut Chen lalu tersenyum. Tak kusangka Nona Kim membelikanku baju saat aku dan Chen jalan-jalan kemarin. Celana pendek dan kaus, benar-benar khasku.

Tak hanya itu, Nona Kim bahkan membelikanku peralatan make-up. Padahal dia tak perlu membeli semua kemasan yang belum dibuka ini demi aku. Aku bisa saja pergi tanpa riasan apapun. Aku merasa bersyukur mereka menghabiskan uang untuk membebaskanku dari kegelapan 2 hari lalu.

Aku teringat mimpi buruk semalam. Tentang akhir dari hubunganku dan pemilikku. Yah, pemiliku dulu, seutuhnya sampai dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami yang sudah berjalan sekitar 1 tahun.

Aku tak ingin mempunyai pacar dalam waktu dekat ini. Aku bahkan tidak berani menyapa laki-laki duluan seperti yang selalu kulakukan dulu. Chen yang sekarang selalu tersenyum padaku yang masih saja menunjukkan ekspresi datar hingga detik ini.

Selesai merapikan diri, aku menunggu Chen di ruang keluarga. Banyak foto yang terpajang di sana, dan yang paling menarik perhatianku adalah foto Chen dari anak-anak hingga dewasa. Banyak sekali fotonya bersama mainan bebek.

“Ah, bebek memang binatang favoritku”

“Huwa!” seruku lalu menutup mulut. Chen tertawa kecil.

“Baru kali ini aku melihat Sunny terkejut…. Ternyata seperti ini ekspresi Sunny……” ujar Chen dengan senyum usilnya. “Tapi manis kok, sungguh”

“Kau membuatku berteriak….!” Lanjutku tak mau kalah lalu Chen tertawa lagi membuatku juga melepas tawaku. Sudah lama aku tidak merasa sesenang ini.

“Kenapa? Justru kau yang aneh sedari tadi…. Melotot memandangi setiap foto!” ucap Chen tak mau kalah lalu memakaikan topi di kepalaku. “Ayo, berangkat. Lebih cepat lebih baik, kan?”

************************

Maybe you are the reason why I’m here. How will I be when you are not around?

Gedung bioskop ternyata tidak terlalu jauh dari kediaman Chen. Banyak sekali film yang diputar. Meski jam tayang pertama belum mulai, banyak pasangan kekasih mulai dari muda hingga tua memadati tempat itu.

“Hmm…. Percy Jackson and The Sea of Monster, The Mortal Instruments, The Wolverines, Mr.Go, Killing Season, Queen’s Clasroom, No Breathing, Glitter. Nonton apa ya, enaknya?” tanyaku setelah membaca satu per satu judul film yang sedang main.

“Bagaimana kalau Mr.Go?” jawab Chen sambil menunjuk poster salah satu film asli dari Korea itu.

“Aku lebih memilih The Mortal Instruments…..” lanjutku lalu Chen mengusap kepalaku lembut.

“Ya sudah, kita nonton itu saja!” seru Chen lalu segera mengantri di loket pemesanan tiket. Sudah lama aku tidak bersikap semanja ini pada laki-laki.

Aku memperhatikan sekelilingku. Tidak ada orang itu. Aku cukup lega. Tiba-tiba seorang perempuan yang sepertinya bekerja di gedung itu menepuk pundakku.  “Ne?”

“Saya menawarkan gelang ini pada anda!” seru perempuan itu lalu memperlihatkan sepasang gelang dengan warna yang sama dan bertuliskan ‘think of you’. “Apa anda mau sepasang?”

“Apa ini gratis?” tanyaku lalu perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah, saya ambil”

“Gomawo!” perempuan itu memakaikan gelang pada tangan kiriku dan memberiku pasangannya. Aku ingin memberikannya pada Chen, jika aku berani.

Siapa sangka Chen datang sambil membawa pop corn dan 2 botol minum. Dia menunjukkan tiket yang sudah dia beli sambil tersenyum. “Ayo kita masuk ke dalam theater 1!”

Di dalam gedung bioskop, sudah banyak orang yang duduk. Aku dan Chen duduk sesuai tempat duduk yang diatur dalam tiket dan langsung melahap seperempat dari pop corn sebelum film di mulai.

Begitu film dimulai, aku berusaha fokus pada cerita tapi berkali-kali hancur karena aku sadar Chen selalu melihat ke wajahku seakan-akan ada yang aneh di wajahku. “Ada apa? Kau mau pop corn lagi?”

“Ani, aku…. Hanya sedikit ngantuk. Aku ingin tidur…. Boleh aku bersandar di pundakmu?” tanya Chen lalu aku mengangguk. Dan dengan cepat Chen langsung tidur, membuatku sedikit berdebar-debar.

Aku teringat akan gelang pasanganku. Dengan perlahan aku mengeluarkannya dari kantong celanaku lalu memakaikannya pada tangan kanan Chen. Aku sempat menghirup napas panjang sebelum melakukannya.

Aku kembali fokus ke film yang sedang aku tonton. Sambil memperhatikan Chen yang terlelap dalam mimpi, ada debaran baru di dalam hatiku.

Suara tepuk tangan menggema di seluruh gedung bioskop setelah nama pemeran ditampilkan, membuat Chen terbangun dari tidurnya yang menurutku sangat nyenyak.

“Apa filmnya bagus?” tanya Chen begitu kami berdua keluar dari theater.

“Ne, bagus sekali. Claire sangat keren! Sayang sekali kamu tidak melihat bagian terakhir!” sahutku penuh semangat. “Oh iya pop cornnya masih sisa, apa kau mau?”

“Habiskan saja, all yours” jawab Chen lalu memperhatikan pergelangan tangannya. “Gelang apa ini?”

“Ah gelang itu dariku!” lanjutku sambil menunjukkan pasangan gelang yang aku pakai di tangan kiriku. “Kata-katanya bagus…!”

“Jinjja?” gumam Chen lalu mengucek matanya. “Apa bacanya?”

“Hah?” tanyaku kembali lalu memperhatikan gelang Chen. “Tulisan di gelang kita sama, kok!”

Chen menggeleng membuatku tidak mengerti. “Aku….. Sengaja memilih film korea karena aku tidak membaca subtitle!”

“Mwo?” aku tak percaya.

***************************

I told myself it okay for us, so be here as long as you can………..

Yang pertama terlintas di pikiranku begitu bangun adalah ke tempat yang ada jaringan internet. Sejak dia berkata seperti itu kemarin, aku makin penasaran dengan penyakit yang ia miliki.

“Ah, Sunny kau mau jalan-jalan sendirian?” tanya Tuan Kim begitu melihatku melaluinya tanpa sarapan.

“Ne, hanya sebentar!” jawabku lalu menunduk. “Permisi!”

Tak jauh dari rumah Chen ada sebuah café dengan jaringan internet. Aku segera search tentang kemungkinan penyakit yang dialami Chen sehingga sengaja tertidur selama film berlangsung.

“Ketemu!” seruku lalu membaca dengan baik-baik artikel yang tertulis.

Dyslexia alias ketidakmampuan. Penderita biasanya tidak bisa menulis dan membaca dengan baik terutama dalam bahasa asing. Penderita harus belajar 2 atau bahkan 3 kali lebih keras dari orang sebayanya untuk menyamakan kemampuan.

Orang yang menderita dyslexia akan menulis dan membaca yang dianggap orang umum sebenarnya salah. Seperti ‘Pretty’ yang ditulis ‘Prity’ atau ‘Father’ yang ditulis ‘Fater’. Dalam kemampuan membacanya ‘Brown’ dibaca ‘Bron’ atau ‘Movie’ dibaca ‘Moufi’.

Penderita harus dibawa ke ahli psikolog yang tepat agar bisa sembuh atau tidak penderita tidak bisa melanjutkan pendidikan, terkucilkan dari pergaulan bahkan jika stress berlebihan bisa berakhir dengan bunuh diri.

“Aku tak percaya…. Chen mengalami dyslexia……” gumamku sambil menggeleng. Karena itu dia hanya memperhatikanku selama film berlangsung. Dia bahkan bertanya padaku apa yang tertulis di gelang kami.

Ternyata ada yang lebih tidak beruntung daripada aku. Chen pasti terpaksa putus sekolah Karena penyakit ini. Dia pasti iri dengan teman-temannya yang bisa bekerja mencari uang sendiri.

“Sunny?” panggilan dari suara yang aku kenal membuatku berhenti memikirkan Chen dan berusaha mengingat-ingat.

“Chanyeol…..”

“Bukannya kamu dikarantina?” tanya Chanyeol lalu mengangguk mengerti. “Ah rupanya begitu. Ada orang yang membelimu. Beruntung sekali kau.”

“Mau apa kau ke sini?” tanyaku gugup.

“Hanya sarapan. Kau sendiri sedang apa di sini? Apa kau memata-mataiku? Jujur saja aku senang jika kau menjadi pelampiasanku lagi” jelas Chanyeol panjang lebar membuatku tidak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanyaku lalu Chanyeol tertawa seperti orang gila.

“Aku gagal dalam pekerjaanku. Pameran foto pertamaku tidak sukses. Sepertinya aku butuh orang untuk dipeluk” lanjut Chanyeol lalu menyentuh rambutku dengan lembut tapi seperti duri bagiku. “Kita bisa kembali seperti dulu, kau tahu?”

Aku menggeleng pelan lalu Chanyeol tertawa lagi. “Kenapa? Bukankah sudah menjadi tugasmu untuk menjadi mainanku? Itukan yang sudah diatur oleh Tuhan?”

“E, entah takdir atau nasib yang mempertemukan kita….. Aku tidak berniat kembali padamu…..” jelasku gemetar seperti kelinci yang hampir dibunuh.

“Bagaimana jika aku memaafkanmu? Kau pasti senang, kan?” tanya Chanyeol lagi lalu aku menggeleng.

Jika takdir atau nasib yang membawaku kemari, mengembalikanku ke fungsiku semula sebagai sebuah mainan yang diciptakan untuk pada akhirnya dibuang…. Kali ini aku tidak menerima. Sama sekali tidak menerima. Meski hanya 1% yang tidak menerima, akan kulawan 99% sisanya.

Tapi aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Aku butuh Chen, aku membutuhkannya sekarang. Aku tidak tahu kenapa sampai detik ini hanya dia yang kupikirkan. Haruskah aku berteriak meski dia tidak bisa mendengar?

Andaikan dia punya perasaan yang sama padaku, mungkin dia sekarang sudah mendobrak pintu, menerobos meja-meja dan kursi di café ini lalu menampar Chanyeol untuk menjauhkannya dariku, menyelamatkanku sekali lagi.

Dan itu benar-benar terjadi. Hanya sekilas, secepat kilat itu terjadi depanku. Kini Chanyeol berbaring di lantai café dengan punggung kesakitan, dia merintih.

“Chen, kenapa kau ada di—“

“Bicaranya nanti saja, oke?” Chen langsung menggenggam tanganku erat, membawaku lari dan memperlihatkanku sekali lagi cahaya mentari yang sebenarnya jika aku pikir lagi tidak sesuai dengan nama akrabku.

Sama seperti hatiku yang menangis, hujan turun meski tidak terlalu deras tapi genggaman tangan Chen tetap menghangatkanku. Lebih hangat dari perapian di rumahnya.

“Chen, kau basah…..” ujarku lalu Chen menggeleng. “Kenapa?”

“Karena dari sudut hatiku aku merasa kau memanggilku….. Dan aku cemas kalau aku tidak mendampingimu” jelas Chen lalu aku menunjukkan ekspresi seperti aku membutuhkan penjelasan lebih.“Kita pernah bertemu, dulu. 18 tahun yang lalu….” Lanjut Chen. Saat umurku 7 tahun… Ada apa?

“Saat itu aku tersesat dan tidak bisa pulang karena aku tidak mengingat alamat rumahku sendiri….. Dalam hujan, aku tetap bertanya pada orang-orang sekitarku tapi tidak ada yang peduli pada anak kecil sepertiku” jelas Chen lalu menarik napas panjang.

“Dan kau ada di situ, bertanya padaku di mana rumahku. Meski aku tidak menjawab, kau tetap mengantarku keliling kota hingga aku menemukan rumahku. Di tengah hujan, kau hanya tersenyum. Membuatku seperti terkena sihir” lanjut Chen membuatku menumpahkan air mata. “Jangan menangis…..”

Chen mengusap air mataku meski kami berdua sama-sama tahu bahwa itu tidak ada gunanya karena hujan semakin deras dan tubuh kami berdua basah kuyup. “Da, darimana kau tahu kalau aku yang mengantarmu ke rumah?”

“Saat itu name tagmu jatuh…. Dan aku dibantu dengan kedua orang tuaku membaca tulisan itu. Lee Sun Kyu” ujar Chen. “Kebetulan teman appaku bekerja di tempat karantina dan mengatakan bahwa kau dikurung di sana….. Kami menabung selama satu bulan, termasuk uang untuk membayar psikologku untuk biaya pembebasanmu.”

“Bodoh, kenapa kau menyia-nyiakan uang itu hanya untuk bertemu denganku?” tanyaku sambil menggeleng tidak mengerti.

“Karena kau cinta pertamaku, oke? Aish, bisa-bisanya aku mengaku seperti ini! Senyumanmu yang seperti matahari itulah….. Yang membuatku bisa memanggil nama akrabmu, Sunny!” lanjut Chen lalu hujan berhenti seketika. Sinar matahari menembus awan menerangi jarak di antara kami. “Mulai sekarang, jangan anggap kalau kau pantas sendirian…. Sunny”

Aku tersenyum, dengan berapa juta volt, yang tidak terhitung. “Aku juga….. Tidak ingin berpisah darimu…. Karena kau yang selalu aku pikirkan….”

Aku memeluknya erat dan aku sungguh senang dia membalas pelukanku. Dia seperti mengisi baterai kembali dan aku rela menjadi mainan Chen karena aku yakin Chen akan melindungiku, merawatku dan mendampingiku selama aku masih bisa tersenyum.

“Saranghae”

If I count every step I take to come closer to you, I realized that I Think of You.

YOURS TOY FOREVER AND ALWAYS

LEE SUN KYU

T.O.Y // THE END

**************************

Annyeonghaeyo, gomawo sudah mau membaca FF gagalku .__. Awalnya aku ingin FF ini dengan main cast Tiffany untuk merayakan ulang tahun Tiffany, padahal Author sendiri tidak ingat ulang tahun Tiffany *plakk baru sadar ketika ada yang bicarain di RP –Role Player—tapi aku merasa Sunnylah yang lebih cocok menjadi main cast!

Ini FF dengan cast Sunny pertama Author, mian kalau sifat Sunny yang asli tidak terasa di FF ini. Silahkan komentar, no silent reader okay? Gomawo~

Jangan lupa visit my personal wp http://rabbitchocojelly.wordpress.com

Dan karena Author spesialis FF Taeyeon, baca FF dengan main cast Taeyeon yang pernah Author buat –hingga sampai sekarang—di http://allthestoriesistaeyeon.wordpress.com

~ANNYEONG~

One response to “[Freelance] T.O.Y [Think Of You]

  1. Huaaa keren ffnya feelnya dapet min apa lagi yg castnya chen ^_^ kasian bebeb chentong punya penyakit kaya gitu ._.
    Tapi aku masih belum mudeng tor, sunny jadi mainan nya chanyeol terus dikarantina gegara kenapa? Terus maksudnya gimana tor ? Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s