Beautiful In White [YulHan Version]

BIW YH Vers

Title: Beautiful In White

Author: Annzi Jung

Main Cast: Kwon Yuri, Xi Luhan.

Genre: Fluffy, Romance, AU

Lenght: 1481 words

Rating: PG-17

Disclaimer: Plot murni milik saya. Para cast milik orang-tua dan managemen mereka.

Author’s Note: Ini fic pertamaku di blog ini :3 Fic ini terinspirasi dari lagu Beautiful In White yang dinyanyikan oleh Shayne Filan.Fic ini juga udah pernah dipublish di blog pribadiku dengan pairing yang berbeda.

***

Seoul, South Korea.

08.00 KST

Seorang pria berumur sekitar 20 tahunan berperawakan tinggi tak henti-hentinya tersenyum menghadap pantulan dirinya didepan cermin. Dengan setelan jas berwarna biru gelap itu semakin menambah ketampanan sang pemilik wajah.

“Anda terlihat tampan tuan Xi.” Ujar salah satu pelayan yang berdiri disampingnya. Pria tersebut menoleh sedikit kemudian tersenyum kecil. Ia pun kembali menatap pantulan dirinya.

“Oh iya Tuan Xi.” Sang pelayan berujar lagi—membuat pria itu kembali menatapnya.

“Apakah anda ingin melihat Nona Kwon? Sepertinya ia sudah selesai berpakaian.” Senyum kembali menghias di wajah sang pria tampan tersebut.

“Tentu saja. Antarkan aku ke ruang ganti calon istriku.”

***

“Wah, anda tampak makin cantik dan anggun dengan gaun putih ini Nona Kwon!” kata salah satu penata rias menatap bayangan seorang wanita cantik berkulit coklat eksotis.

Sang wanita hanya menunduk malu mendengar pujian dari sang penata rias.

Ia kemudian mendongak  menatap cermin berbingkai kayu tersebut.

Bayangan seorang wanita cantik, langsing, bermata coklat, rambut lurus terurai, berbalut gaun putih balik memandangnya.

Sang wanita mengerjapkan mata. Tidak percaya apakah sosok banyangan yang ditatapnya kini itu adalah benar dirinya.

Matanya kemudian beralih menatap gaun yang dikenakannya. Gaun berwarna putih dengan motif yang simple namun terkesan mewah dan istimewa.

Sementara ia larut dalam pikirannya, tiba-tiba pintu diketuk, setelah itu pintu terbuka dan seorang pria tinggi, tampan dengan setelan jas berwarna biru gelap terlihat dibalik pintu. Melihat sosok tersebut para penata rias yang berada di ruangan itu memohon diri keluar—memberikan waktu kepada kedua calon mempelai untuk berbincang.

Sang wanita menoleh, bibirnya mengulas senyuman tatkala ia melihat pria yang sebentar  lagi akan menjadi calon suaminya itu.

Pria tampan tersebut juga membalas senyuman wanita itu.

Ia lalu mendekat ke arah sang wanita dengan tatapan seolah-olah agen FBI yang sedang menginterogasi seorang teroris. Merasa risih, sang wanita hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Err… bagaimana?” tanya sang wanita meminta pendapat.

Pria tampan itu kembali mengulum senyuman.

“Calon istriku benar-benar cantik. Gaun ini cocok untukmu. Ukurannya pas dan kontras dengan warna kulitmu. Perfect!” kata pria tampan tersebut seraya mengacungkan jempolnya.

Mendengar pujian dari sang calon suami, wanita berkulit coklat itu hanya menunduk malu. Menutupi semburat merah yang mulai menjalari pipinya.

Melihat tingkah calon istrinya itu sang pria hanya tertawa kecil. Ia kemudian mengulur tangannya meraih dagu sang calon istri mengangkatnya dan mendaratkan kecupan lembut di bibir istrinya.

Wanita cantik itu hanya bisa membelalakkan matanya—tak percaya sang calon suami akan berbuat begitu.

Begitu ia melepas bibirnya, sang pria tampan berujar.

“Jangan malu-malu lagi ya? tinggal menghitung jam kau akan resmi menjadi Nyonya Xi. Dan kau harus terbiasa dengan hal kecil seperti ini.”

Kali ini pipi sang wanita memerah dari sebelumnya bak kepiting rebus. Dan bibirnya kembali menyunggingkan senyuman.

“Nah, kalau begitu…” pria tampan itu berkata. “Apa Nyonya Xi ini sudah siap?”

Wanita yang dipanggil ‘Nyonya Xi’ oleh sang calon suami terkikik pelan, kemudian mengangguk dan berujar, “tentu saja.”

***

Pernikahan. Adalah momen sekali seumur hidup yang ditunggu-tunggu oleh semua insan di muka bumi ini. Begitupun dengan mereka. Pasangan yang sudah resmi menjadi suami-istri siang tadi, pasangan yang diberkati disalah satu gereja besar yang berada di kota Seoul, pasangan yang tengah bernafas lega karena telah melangsungkan acara pernikahan mereka tanpa kurang sesuatu apapun.

Dan sekarang, tepat jam 11 waktu Korea, pasangan itu kini tengah duduk berpelukan dibalkon kamar rumah mereka di lantai 2.

Pasangan itu sedari tadi hanya menatap bintang yang berkelap-kelip di langit hitam di atas sana.

Tak mempedulikan hembusan angin malam yang kencang yang membawa hawa dingin. Entah kenapa pasangan itu tidak kedinginan. Karena mereka berpelukan, membagi kehangatan kepada satu sama lain.

Pasangan itu… Xi Luhan dan Kwon Yuri. Ah tidak, sekarang namanya telah berganti menjadi Xi Yuri,

“Kau tau Nyonya Xi?” pria tampan itu—Xi Luhan berkata.

“Ya?” kata sang wanita cantik berkulit eksotis—Kwon Yuri.

“Tadi, ketika kau berjalan masuk menuju altar, untuk sepersekian detik aku hampir tidak bisa bernafas.

Kau sungguh tampak cantik dan anggun dengan balutan gaun putih itu. Sungguh, ingin rasanya aku segera berlari memelukmu dan tak akan membiarkan 1 serangga pun menggigit atau hinggap dikulit coklatmu.

Yuri yang mendengar pernyataan dari mulut sang suami hanya bisa terkekeh. Suaminya ini sedang bergombal atau apa?

“Gombalanmu sangat payah, Tuan Xi.”

“Eh? Aku bersungguh-sungguh Yuri! You look beautiful in white Mrs. Xi. And I’m so lucky to have a wife like you.” Ujar Luhan seraya mengecup pelan kening istrinya.

Kembali, semburat merah menjalari pipi Yuri.

“Ah Tuan Xi, apa kau ingat pertemuan pertama kita?” tanya Yuri. Ia terus tersenyum dikala memorinya memutar kembali kejadian 3 tahun yang lalu. Kejadian lucu yang tak mungkin dilupakan pasangan suami-istri itu.

Luhan tersenyum kecil kemudian berkata “tentu saja.”

Matanya menerawang, mengingat kembali kejadian 3 tahun lalu yang mempertemukan ia dan istrinya.

***

15 November  2010

18.00 KST

“Luhan, kau tidak lupa ‘kan kalau malam ini kita ada acara makam malam di rumah keluarga Kwon?” tanya Nyonya  Xi waktu itu. Luhan yang asyik dengan rubiknya menoleh malas ke arah sang ibu.

“Cepat ganti baju!” kata ibunya setengah berteriak.

Luhan mendengus. Kemudin berdiri dari sofa dan masuk ke kamar.

Rumah keluarga Kwon berada di perumahan di kawasan Cheong-Ju.

Luhan turun dari mobil dan mengikuti langkah kedua orang-tuanya memasuki rumah minimalis di perumahan tersebut.

Mata Luhan tak henti-hentinya mengamati desain interior rumah tersebut. Lalu matanya menangkap pigura besar yang tergantung di dinding rumah itu.

Seorang gadis cantik berambut hitam panjang terurai sedang tersenyum di dalam pigura. Foto gadis itu, mampu membuat Luhan terpesona untuk beberapa lama.

Luhan bisa saja berdiri beberapa jam hanya untuk memandang foto itu kalau saja ibunya tak memanggilnya untuk segera menuju ke ruang makan.

Ketika sampai di ruang makan, saat itulah Luhan melihat sosok asli dari foto yang diliatnya sesaat yang lalu.

Gadis dengan rambut hitam panjang,berkulit coklat dengan senyuman yang sama persis dengan yang di foto.

Luhan mengambil tempat duduk di sebelah ayahnya. Lalu, dengan setengah berbisik Luhan bertanya, “ayah siapa gadis itu?”

Ayahnya menjawab “Dia putri teman ayah. Namanya Kwon Yuri.

Luhan mengangguk. Yuri nama yang biasa. Namun entah kenapa setelah melihat sang pemilik nama, nama itu menjadi istimewa baginya.

Luhan terus mengamati gadis itu. Gadis itu terus tersenyum ketika sedang berbincang dengan ibu Luhan.

Dan saat itulah mata mereka bertemu. Luhan membatu tak mampu memalingkan wajahnya sedang gadis itu hanya menunduk malu.

Lalu, tiba-tiba tangan sang gadis terulur. “Namaku Yuri. Salam kenal” ucapnya.

Luhan bergeming.Tidak mampu berkata-kata. Lalu, ayahnya menyikut lengan Luhan—menyuruhnya agar membalas uluran tangan sang gadis. Baru saat itulah tangan Luhan terangkat. “L-Luhan.” Ucapnya hampir tak terdengar. Ayahnya yang disebelahnya pun tidak bisa menangkap apa yang diucapkan anaknya barusan.

Gadis didepannya mengangkat sebelah alisnya. “Apa?  maaf aku tidak dengar.”

“L-Luhan. Namaku Xi Luhan.” Kata Luhan. Entah kenapa dia menjadi gugup. Tidak biasanya seorang Xi Luhan gugup hanya karena berkenalan dengan seorang gadis.

Tapi mungkin gadis ini pengecualian, gadis ini… Kwon Yuri mampu membuat Luhan terpesona hanya dengan meihat fotonya saja. Kwon Yuri yang mampu membuat Luhan terbata-bata dan gugup hanya karena membalas uluran tangannya. Kwon Yuri… mampu membuat seorang Xi Luhan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.

***

“Aku tidak yakin kalau kau ingat ini atau tidak, Yuri. Tapi apa kau tau? saat pertama bertemu denganmu aku sangat grogi. Sampai tidak mampu berkata-kata.”

Yuri tersenyum. “Tentu saja. Aku ingati sekali wajahmu yang kikuk itu Xi Luhan. Kau lucu sekali.”

Luhan mempererat pelukan di pinggang istrinya. “Hanya kau. Wanita yang membuatku seperti itu.” Kata Luhan sembari mengecup puncak kepala istrinya.

Yuri hanya diam, menutup matanya. Dia nyaman dengan posisi mereka seperti ini. Hampir saja dia tertidur di dada bidang suaminya, kalau sang suami tidak berujar “Jangan sampai tertidur, Nyona Xi, Kau ingat malam ini malam pertama kita ‘kan?”

Yuri membuka mata. “Lalu?”

“Aku ingin segera mendapat anak perempuan!” ujar suaminya bersemangat.

Yuri mengangkat kepalanya dan menatap bingung ke arah suaminya. “Kenapa anak perempuan?”

Luhan mengangkat bahu. “Entahlah aku suka kalau anak kita perempuan. Lagipula, aku ingin dia mewarisi matamu. Mata indah berwarna coklat yang mampu membuatku jatuh cinta.” Luhan berhenti kemudian melanjutkan. “Dan suatu saat, akan ada anak laki-laki sepertiku yang akan jatuh cinta padanya hanya karena melihat matanya. Lalu, aku juga akan mendampinginya dilorong gereja menuju altar. Dia pasti sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih. Cantik seperti ibunya.” Luhan tersenyum membalas tatapan bingung istrinya.

“Agar supaya kisah cinta mereka, tidak jauh dari kisah cinta kita berdua.” Kata Luhan tertawa sambil mengacak pelan rambut istrinya.

Yuri hanya bisa menggeleng. “Dasar  Tuan Xi.”

“Ayo kita memulai malam pertama kita.” Dengan cepat Luhan menyelipkan kedua tangannya di balik punggung dan lutut Yuri.

Dia lalu mengangkat dan menggendonggnya dan membawa masuk ke dalam kamar mereka.

Luhan lalu membaringkan Yuri di kasur mereka dengan tatapan nakal.

“Kau ingin berapa anak Luhan?” tanya Yuri ketika Luhan mulai mendekatkan kepalanya.

Luhan menghentikan aksinya. “Hm, 5 saja cukup.”

Mata Yuri melebar. Hampir saja ia berteriak “apa” kalau saja suaminya tidak cepat mengunci bibir istrinya dengan bibirnya.

Dan kedua pasangan itu menghabiskan malam pertama mereka yang romantis. Sepertinya Yuri harus pasrah dengan keinginan suaminya untuk memiliki 5 anak.

|FIN|

Gimana? hehe jangan lupa tinggalin komentar ya ^^

14 responses to “Beautiful In White [YulHan Version]

  1. so sweettttttttttttttttttttttttt
    daebak eon,, di tunggu ff yg lain, gak usah lma” ya, klo perlu hari ini udh jadi,,
    #plakk di gampar author, hehehe peace eon

  2. omooo 5 anak??? kyaaaa aku dukung 10000% >v<
    dapet banget gamabran gimana romantisnya mereka berdua aduh aduh soswiiit😄

    hidup YulHan!! hidup Yulhan!! *teriak kyk lg orasi* *digampar author* kkk~
    keep writing ne~ himnaeseyo~~~ ^^v

  3. bagus tgor, dan saya suka,
    dari kemarin nunggu ff baru di sini, dan datanglah author membawa kabar gembira…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s